GIANYAR – Sektor UMKM teruji mampu tetap bertahan dalam situasi pandemi Covid-19 dibandingkan usaha makro. Karena itu, guna memperkuat ekonomi lokal, maka UMKM di Bali perlu didukung dari segi perputaran modal maupun pemasaran produknya. Pandangan itu diutarakan pemilik BPR Bali Dewata, I Nengah Senantara, saat pengundian hadiah arisan Anugerah Dewata BPR Bali Dewata, Senin (30/5/2022).
Sebagai pengelola perbankan selama 19 tahun, Senantara menilai Bali mesti mengedepankan model pengembangan ekonomi lokal untuk penguatan dan membesarkan pemain lokal. Mencapai kondisi tersebut, dia berkata semua sumber daya keuangan dan ekonomi harus digali dari sumber-sumber yang ada di Bali. Ketika memang ada sumber yang harus diperoleh dari luar, jelasnya, sedapat mungkin produknya lebih banyak beredar di Bali.
“Misalnya jajan tradisional bali. Jika itu dikonsumsi dalam jumlah besar ketimbang produk olahan pabrik misalnya, maka lebih banyak sumber daya lokal yang berkembang,” urai pengusaha yang juga pemilik Batik Bidadari tersebut.
Lebih jauh diungkapkan, Bali wajib melakukan restrukturisasi pengembangan ekonomi lokal. Sejauh uang lebih banyak beredar di lokal, maka pengembangan ekonomi lokal juga bergerak. Jika uang yang datang dibelikan sesuatu yang konsumtif, ekonomi di lapisan bawah tidak akan terkerek naik. Skenario yang lumayan buruk adalah Bali akan jadi ketergantungan dengan bahan dari luar daripada muatan lokal.
“Makanya kami buat gerakan mari menabung, agar uang di masyarakat bisa bergerak dengan skema perbankan. Target kami agar ekonomi lokal bisa terus bergerak secara gotong royong,” sebutnya.
Dirut BPR Bali Dewata, Ketut Santiawan, menambahkan, tabungan arisan Anugerah Dewata memang ditujukan untuk pengembangan ekonomi lokal. Setorannya cukup Rp100 ribu tiap bulan selama 3 tahun dengan anggota minimal 350 rekening, dengan penarikan arisan tiap tanggal 28 tiap bulan. Sekali penarikan ada satu pemenang dengan hadiah Rp3,6 juta.
“Setiap pemenang arisan dibebaskan dari setoran berikutnya, dan kepesertaannya dinyatakan berakhir. Rekening yang belum menang sampai periode berakhir, akan mendapat saldo arisan ditambah Rp100 ribu,” ucapnya.
Bendesa Adat Sangsit Dauh Yeh, Buleleng, Jro Wayan Wisara, mengapresiasi kinerja BPR Bali Dewata yang bertahan sampai 19 tahun. Dia bertutur kelahiran BPR ini dari Sangsit berawal karena adanya dagang pindang, sampai bisa besar seperti sekarang. “Bank Dewata berjuang sedemikian rupa dalam manajemen untuk memberi solusi kepada masyarakat. Saya harap kesuksesan Bank Dewata bisa berimbas ke LPD Sangsit, tempat asal Pak Santiawan,” cetusnya, direspons senyum Santiawan. hen























