Sering Hujan, Produksi Petani Garam di Yeh Malet Terganggu

ILUSTRASI - Proses pembuatan garam tradisional di Yeh Malet terganggu akibat sering turun hujan belakangan ini. foto: net

KARANGASEM – Hasil panen petani garam di Karangasem sepekan ini mengalami penurunan akibat cuaca yang tidak mendukung. Seperti di Yeh Malet, Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, produksi garam menurun gara-gara hujan sering turun. Kondisi itu berpengaruh terhadap proses penjemuran.

Salah seorang petani garam, I Wayan Budiasa, menuturkan, hasil panen sedikit turun dibanding bulan sebelumnya. Rata-rata per minggu dia bisa menghasilkan lebih dari 50 kilogram karena cuaca tidak bersahabat. Kondisi kurang menggembirakan itu terjadi sejak Desember 2022 lalu.

Bacaan Lainnya

“Saya kerja sama keluarga. Kalau dulu saat musim panas bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram per minggu, kalau sekarang 50 kilogram,” kisahnya, Senin (16/1/2023). “Di sini ada sekitar 40 petani garam, sebagian besar masih beroperasi. Kalau hujan, sementara ditutup pakai terpal,” sambungnya.

Dia berharap cuaca segera kembali normal, sehingga petani garam bisa beraktivitas seperti biasa dan hasil panen bisa kembali meningkat. Untuk penjualan garam, dia berujar sejauh ini tidak ada masalah. Petani garam di Banjar Yeh Malet menjual produknya ke Pasar Galiran, Klungkung. Harganya bergantung wadah kemasan yang dipakai.

“Untuk penjual garam sudah ada pembelinya, pembayaran kadang dicicil, kadang ditukar dengan kebutuhan pokok. Kalau seandainya ada pembeli yang datang ke lokasi, kemungkinan pembayarannya tunai. Satu kaleng besar kami jual sekitar 20 ribu, pembelinya lumayan,” tutupnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses