DUA kali meraih predikat peraih suara tertinggi di Dapil Badung untuk DPRD Bali saat Pileg 2019 dan 2024, kini Gus Bota masuk dalam daftar bakal calon ke Pilkada Badung 2024. Namun, masa lalunya di ormas Baladika Bali menghantui karier politiknya. Bagaimana dia bisa menjadi jawara Pileg meski dibayangi stigma negatif? Bagaimana peluangnya dalam kandidasi Pilkada Badung 2024? Berikut petikan wawancara wartawan POS BALI, Gus Hendra, dengan politisi PDIP bernama lengkap Bagus Alit Sucipta itu.
Bagaimana strategi Anda merawat konstituen?
– Terima kasih masyarakat Badung karena dalam Pileg 2019 dan 2024 saya diberi kepercayaan, dengan perolehan suara 111.741 dan sekarang 117.625, sangat luar biasa. Saya bukan manusia sempurna, pasti ada kekurangan. Yang penting lakukan terbaik dengan segala kemampuan terbaik untuk menjawab aspirasi masyarakat Badung untuk kami jembatani.
Sejumlah analis menilai suara besar Anda karena ditopang ormas Baladika dan Laskar Bali, bagaimana menanggapi itu?
– Memang benar yang disampaikan, tidak saya pungkiri kekuatan besar ada di Baladika dan Laskar Bali, juga (perguruan silat) Bakti Negara sebagai basis yang memberi atau mempengaruhi suara. Ormas itu ada badan hukum. Memang ada trauma negatif di masyarakat dengan kejadian atau permasalahan yang lalu. Meredam itu semua, khususnya Baladika dan Laskar bali, kami menyatukan diri demi masyarakat Bali.
– Kami garansi agar ke depan tidak terjadi hal-hal seperti sebelumnya, sehingga masalah tidak meluas. Kalaupun ada masalah, selesaikan baik-baik agar tidak terjadi trauma masa lalu. Kami buat aliansi Bali Anggugah Shanti yang di bawahnya Laskar Bali dan Baladika.
– Kedua, bagaimana kami mengurangi stigma negatif ormas, salah satunya saya maju ke legislatif. Harapan saya bisa lebih berada di tengah masyarakat, bukan sebagai ketua ormas. Masyarakat sebagai juri. Kalau memang diterima pasti diterima. Memang bisa diarahkan atau diintervensi masyarakat? Kan tidak bisa.
Terganggu tidak dikait-kaitkan masa lalu ketika terjun ke politik?
– Saya sudah siap. Dulu pertama kali simakrama di salah satu banjar, di belakang ada bisik-bisik ‘apa ya kal orange Gus Bota jani ne (apa akan dikatakan Gus Bota sekarang)? Dia kan preman, paling bisa bentak-bentak saja! Kalau tidak ya intimidasi! Saya biarkan karena saya ingin tampilkan bagaimana diri saya, nilailah itu. Ya pasti yang ditanyakan stigma negatif itu. Setelah saya sampaikan beberapa hal, mereka bicara sendiri ternyata Gus Bota bagus (tampan), polos, ternyata bisa ngomong (tertawa).
Konstituen Anda sudah cukup untuk DPR RI, kok nggak ke RI saja sekalian?
– Saya ini petugas partai PDIP, tentu siap ditugaskan di mana saja. Kalau kita pribadi pasti maunya A, B, C tapi itu adalah mutlak kewenangan Ibu Ketua Umum, Ibu Megawati Soekarnoputri. Saya siap tunduk perintah beliau. Sekarang diberi tugas di DPRD Bali, dan syukur bisa meningkat suaranya.
Bagaimana mempertanggungjawabkan konstituen sebesar itu?
– Kalau pertanggungjawabkan semua tentu tidak akan bisa, tapi saya akan lakukan yang terbaik. Contoh bawa aspirasi masyarakat Badung, salurkan aspirasi, dan tak kalah penting selalu ada di tengah masyarakat. Contoh saat pandemi Covid-19 tahun 2020 sampai 2022, konsisten ke masyarakat. Sesuai perintah Ibu Ketua Umum, kader turun ke masyarakat. Gaji yang kami sisihkan untuk beli beras bersama istri dan senior DPR RI. Salurkan ke desa, banjar atau tempat yang memerlukan. Meski kecil tapi berbuat.
Di media sosial, nama Anda disebut masuk bursa bakal calon PDIP untuk Pilkada Badung, bagaimana tanggapannya?
– Terima kasih, yang jelas saya akan selalu mengikuti perintah Ibu Ketua Umum. Sampai saat sekarang belum ada proses terkait Pilkada Badung. Saya tegaskan saya siap mengamankan perintah dan siapa pun yang direkomendasi Ibu Ketua Umum.
Jika memang ada aspirasi ke arah itu, posisi Anda sebenarnya bagaimana?
– Yang pasti posisi saya sekarang di DPRD Provinsi (tertawa).
Di media sosial, Anda disebut bukan orang asli Badung yang “dinaturalisasi” di Badung?
– Ya ini dinamika politik. Bagi sebagian yang tidak suka pasti akan cari-cari kesalahan, itu normal. Tapi bagi sebagian besar atau konstituen saya, itu tidak jadi masalah. Kalau dari sudut pandang begitu berarti diskriminatif. Sekarang kembalikan ke masyarakat. Buktinya Pileg 2019, dari 300 ribu pemilih yang menggunakan hak suara, saya dapat 36 persen.
Itu Anda borong sendiri?
– Ya, mereka memilih saya, artinya yang dilihat figur. Masyarakat menilai siapa berbuat apa.
Kalau misal diberi kesempatan di eksekutif, apa jaminan Anda trauma masa lalu masyarakat tidak terulang?
– Maksudnya saya bergaya preman? Begini. Tahun 2019 saya terpilih dan jadi anggota Dewan, lima tahun rekam jejak saya lakukan, apa pernah saya lakukan kejahatan? Apa ada kejahatan terjadi sebagai efek negatif terhadap ormas? Silakan dicek. Apa pernah saya mukul orang? Seburuk apa pun masa lalu seseorang, masa depan masih putih bersih karena masa depan tidak ada yang tahu. Silakan dicek selama menjabat gaya saya gaya preman atau tidak?
Anda termasuk orang baru tapi melejit, dan itu rentan dijadikan musuh bersama di internal dan eksternal. Bagaimana menurut Anda?
– Setiap orang ada zamannya, setiap zaman ada orangnya. Bagi yang berkepentingan sama di politik, saya pasti dianggap musuh. Tapi nyama (saudara) saya krama Badung dan Bali. Kalau saya menganggap itu sebagai saudara, masa saya akan dipakai musuh bersama? (*)
























