JEMBRANA– Program Studi Perencanaan Pariwisata pada Program Magister Terapan Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali (PNB) mengadakan pengabdian kepada masyarakat melalui pengembangan desa wisata agrocacao di Desa Pohsanten, Jembrana sejak 27 Oktober 2019. Pohsanten merupakan desa wisata hasil binaan Program Magister Terapan Perencanaan Pariwisata (S2 Matrappar) Jurusan Pariwisata PNB.
Pada penutupan pengabdian kepada masyarakat di Community-Based Tourism Centre desa tersebut, Jumat (23/10/2020) lalu hadir Kadisparbud Jembrana, Nengah Alit; Perbekel Pohsanten, IGA Kade Sultra Gunadi Putra; pengurus CBT-desa wisata, dan wakil sekaa teruna. Hadir juga Ketua Program Studi Matrappar, Dr. I Gede Mudana, mahasiswa Matrappar dan program studi lain di Jurusan Pariwisata, serta Prof. Ni Made Ernawati selaku Ketua Pengabdian kepada Masyarakat S2 Matrappar (Abdimatrappar).
Ernawati, dalam sambutannya, menguraikan proses pelaksanaan pengabdian S2 Matrappar sejak awal, serta potensi dan apa yang seharusnya dilakukan ke depan. Kegiatan pengabdian tersebut, jelasnya, untuk meningkatkan partisipasi nyata masyarakat Pohsanten dalam kewirausahaan desa wisata. Pengembangan desa wisata berbasis agrocacao, terangnya, terkait dengan upaya pemahaman tatanan lebih luas masyarakat setempat tentang perlunya menjaga alam dan lingkungan lestari serta berkesinambungan.
Menurutnya, perlu melaksanakan prinsip community-based tourism (pariwisata berbasis masyarakat) dalam pengembangan Desa Wisata Pohsanten. Sebab, desa ini memiliki modal hamparan cacao dan topografi menarik. “Selain dibutuhkan peran masyarakat secara kuantitas dan kualitas, implementasi pelestarian alam dan lingkungan menjadi sangat penting. Apalagi modal komoditas cacao yang menjadi daya tarik wisata di sini,” tegasnya.
Nengah Alit menyampaikan terima kasih terhadap pembinaan desa wisata di Jembrana oleh tim yang dipimpin Ernawati. Menurutnya, ada korelasi erat antara pengembangan desa wisata yang dilakukan S2 Matrappar PNB dengan peta perencanaan pembangunan kepariwisataan di Jembrana. Karena semua komponen saling berhubungan, cetusnya, kerjasama Pemkab Jembrana, masyarakat, dan PNB tinggal semakin diintensifkan dan direalisasikan.
“Semoga kerjasama sangat baik ini dapat ditingkatkan di masa depan. Lebih-lebih Prof. Ernawati, selain warga Jembrana, sekarang juga menjadi anggota Badan Promosi Pariwisata Kabupaten Jembrana,” harapnya.
Gede Mudana menambahkan, pengembangan desa wisata cacao ini relevan dengan program pendidikan di kampusnya, baik dalam konteks program studi, jurusan, maupun kelembagaan. PNB, ungkapnya, memiliki paradigma keilmuan green tourism yang ramah alam, lingkungan, serta sistem sosial-budaya setempat. Dengan keberhasilan program pengabdian ini, Pohsanten tidak saja menjadi desa wisata dengan agrocacaonya, tapi juga menjadi laboratorium hidup dan tempat pelatihan bagi lembaga pendidikan, komunitas pertanian, serta kepariwisataan yang ingin mempelajari produksi cacao serta sistem pengembangan wisata cacao. hen
























