Refleksi HUT ke-418 Kota Singaraja, Pembangunan Tetap Melaju, Bersiap Bangkit Lebih Tinggi

BUPATI Buleleng, Putu Agus Suradnyana dan Wabup Sutjidra, serta hasil pembangunan Buleleng. Foto: ist

BULELENG –Tanggal 30 Maret 2022, Kota Singaraja memasuki usianya yang ke-418 tahun. Sebuah usia yang matang. Hal ini dibuktikan dengan laju pembangunan yang berjalan dengan baik.

Meskipun terhambat dampak situasi pandemi Covid-19, Pemkab Buleleng tetap mampu menjalankan pembangunan yang direncanakan berkat koordinasi semua pihak serta pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan.

Bacaan Lainnya

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, mengatakan, pada momentum HUT ke-418, prioritas utama yakni menjaga wilayah Kota Singaraja agar menjadi lebih bersih. “Menjaga bangunan-bangunan bersejarah, sehingga bisa menjadi salah satu atraksi kebudayaan kedepannya,” kata Suradnyana.

Suradnyana menyadari, masyarakat Buleleng menginginkan pariwisata lebih berkembang. Karena rencana pembangunan bandara masih diupayakan, alternatif lain pun coba dijalankan.

”Sambil menunggu, saya mencoba cari titik-titik yang menunjang pembangunan. Orang melirik lingkungan sebagai destinasi di Buleleng. Maka dari itu, mari jaga. Jangan dirusak, malah harus dorong agar lebih baik,” tegasnya.

Pemkab Buleleng melalui duet kepemimpinan Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra selalu berkomitmen pembangunan berkelanjutan. Selain mendorong pembangunan bidang pendidikan, teknologi dan komunikasi, revitalisasi pasar, pembangunan di bidang pertanian dan irigasi, Pemkab Buleleng juga melakukan pembangunan menunjang pariwisata, lingkungan, dan kebudayaan.

Baca juga :  Penataan Pasar Hewan Kayuambua Dianggarkan Rp550 Juta

Seperti Rumah Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno berlokasi di Kecamatan Sukasada yang rampung pada 27 Oktober 2021 dengan total biaya Rp32,76 miliar. RTH Bung Karno memiliki ikon patung Bung Karno setinggi 8 meter dan terpasang di atas pedestal setinggi 6 meter berhiaskan relief bahan perunggu.

Relief tersebut menceritakan kisah cinta orangtua Bung Karno yakni Raden Soekemi Sostrodiharjo dan Ni Nyoman Rai Srimben. Patung Bung Karno dibuat dengan posisi tangan kanan menunjuk ke depan dan tangan kiri memegang tongkat. Dipasang menghadap timur untuk menggambarkan julukan Soekarno sebagai Sang Fajar dari Timur.

Kemudian ada pembangunan tiga jembatan, yakni Jembatan Tukad Buleleng (Bakung), Jembatan Tukad Pangkung, dan Jembatan Daya yang dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp14,2 miliar. Pembangunan ketiga jembatan ini untuk memperlancar dan membuat nyaman mobilitas masyakarat Buleleng.

Pembangunan terhadap fasilitas kesehatan juga dilakukan. Pemkab Buleleng melalui RSUD Buleleng menambah kapasitas ruangan hemodialisa atau ruang cuci darah. Sebelumnya RSUD Buleleng memiliki sekitar 25 tempat tidur, dengan rata-rata jumlah tindakan 50 hingga 70 per harinya.

Dengan pembangunan ruang hemodialisa ini, RSUD Buleleng akan menambah kapasitas hingga dua kali lipat. Akan ada dua gedung masing-masing berkapasitas 30 tempat tidur sehingga total ada 60 tempat tidur. Setiap alat ideal digunakan untuk dua kali tindakan dalam sehari. Maksimal 120 pasien gagal ginjal berat yang bisa ditangani setiap harinya.

Baca juga :  Kartini Masa Kini Diharap Jadi "Role Model" Pendidikan Keluarga dalam Menjalin Komunikasi di Era Milenial

Seluruh pembangunan ini menunjukkan komitmen Pemkab Buleleng untuk terus melakukan pembangunan berkelanjutan yang berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap tidak mengesampingkan kelestarian lingkungan. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.