Puting Beliung Rusak Puluhan Kios Pasar Lempuyang, Uluwatu

KONDISI salah satu bangunan kios di Pasar Lempuyang Pecatu yang rusak akibat angin puting beliung, Kamis (21/1/2021) pagi. Foto: ist
KONDISI salah satu bangunan kios di Pasar Lempuyang Pecatu yang rusak akibat angin puting beliung, Kamis (21/1/2021) pagi. Foto: ist

MANGUPURA – Puluhan lapak bangunan ruko, reklame, dan kios yang berada di Pasar Lempuyang Pecatu Jalan Uluwatu, rusak akibat dihantam angin puting beliung, Kamis (21/1/2021) pagi. Penyangga kabel induk PLN di sekitar lokasi juga lepas. Kendati tidak menimbulkan korban jiwa, namun kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut penuturan salah satu pemilik lahan, Wayan Karang Subawa, peristiwa itu terjadi cukup singkat sekitar 10 menit. Saat kejadian, ia mendaku baru bangun dan hendak duduk di depan rumah. Tiba-tiba angin kencang datang.

Read More

‘’Kejadiannya itu mengagetkan warga, sehingga semua pada berhamburan. Saya belum sempat melihat detail dampak kejadian itu, sebab saya harus segera ke kantor untuk rapat,’’ ujar pria yang juga Lurah Benoa ini.

Karang Subawa menyebutkan, saat kejadian sebenarnya pasar sudah mulai buka. Masyarakat yang ada di sana langsung berhamburan mencari tempat yang aman. ‘’Untung tidak ada korban jiwa,’’ ucapnya, sembari mengatakan, menunggu bantuan dari pemkab, pengontrak lapak akan swadaya memperbaiki.

Sementara itu, Camat Kutsel, Ketut Gede Arta, mengatakan, menerima laporan terjadinya angin puting beliung sekitar pukul 07.30 Wita. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada pagi hari sekitar pukul 05.30 Wita.

‘’Kejadian itu sudah kami laporakan kepada BPBD Badung. Nanti tim BPBD akan mendata estimasi kerugian dan detail dampaknya. Kami juga sudah koordinasi dengan PLN selaku pemilik utilitas yang juga terdampak,’’ sebutnya.

Adanya kondisi peningkatan kecepatan angin tersebut dibenarkan oleh Forecaster On Duty BBMKG wilayah III Denpasar, Putu Agus Dedy Permana, yang dihubungi terpisah. Berdasarkan data pengamatan di stasiun meterologi Ngurah Rai, wilayah Bali selatan saat itu menunjukan terjadinya hujan lebat yang disertai kilat petir.

Hal itu kata dia juga secara otomatis membuat kondisi angin yang bertiup saat itu cukup kencang, sebab hujan dan kilat petir itu dipicu oleh awan comulunimbus. Dimana pembentukan awan tersebut biasanya didahului oleh peningkatan angin kencang terjadi dengan durasi singkat.

‘’Kecepatan angin yang teramati normalnya rata-rata maksimum terjadi sekitar 13 knot atau 24,076 km/jam. Tapi ada juga angin kencang yang terjadi dalam durasi singkat, itu mencapai 22 knot atau 40,744 km/jam,’’ terangnya.

Dipaparkanya, pembentukan awan comulunimbus memang memicu terjadinya fenomena cuaca ekstrem, seperti hujan lebar dan angin kencang yang bertiup dalam durasi singkat. Karena itulah pihaknya mengimbau agar masyarakat bisa lebih mewaspadai kondisi tersebut, khususnya pada Januari hingga Pebruari yang diprediksi menjadi puncak musim hujan.

‘’Awan comulunimbus itu memungkinkan tejadi pada pagi, siang, sore maupun malam hari. Awan itulah yang menyebabkan terjadinya angin kencang dalam durasi singkat. Biasanya awan itu terbentuk ditandakan dengan dengan peningkatan kecepatan angin dan awan gelap dari bawah,’’ ungkapnya.

Kondisi tersebut imbuh dia juga berpengaruh terhadap terjadinya fenomena angin puting beliung. Namun untuk memperkirakan dan mendeteksi terjadinya fenomena itu diakuinya sangat sulit dilakukan, sebab fenomena itu relatif cepat terjadi. Jika itu hanya mengandalkan pengamatan radar, terkadang hal itu cenderung sulit tertangkap. Sebab frekwensi pengamatan radar cukup terbatas, yaitu hanya 10 menit per sekali pengamatan. gay

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.