Populasi Sapi di Karangasem Menyusut Pascaerupsi Gunung Agung

KEPALA Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Karangasem, I Made Sugiartha. Foto: ist
KEPALA Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Karangasem, I Made Sugiartha. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, KARANGASEM – Populasi sapi bali di Kabupaten Karangasem mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Jika pada tahun 2015 jumlahnya sempat menyentuh angka 140 ribu ekor, saat ini populasi yang tersisa tercatat hanya 78.415 ekor. Penurunan drastis ini disebut sebagai dampak erupsi Gunung Agung pada 2017-2018, di mana masyarakat memilih menjual ternak secara mendadak saat harus mengungsi.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Karangasem, I Made Sugiartha, Selasa (20/1/2026), membenarkan kondisi tersebut berdampak pada status Karangasem sebagai lumbung ternak. Namun, dia terus berupaya mengembalikan populasi melalui berbagai program pendampingan peternak. “Masyarakat saat itu memilih menjual ternaknya karena harus mengungsi, hal itulah yang membuat populasi menurun tajam,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data terakhir tahun 2025, populasi sapi bali di Bumi Lahar mulai menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai 78.415 ekor. Kecamatan Kubu menjadi wilayah dengan populasi terbanyak yakni 22.218 ekor, disusul Kecamatan Rendang sebanyak 18.282 ekor. Sebaliknya, populasi terendah berada di Kecamatan Sidemen dengan 3.619 ekor dan Kecamatan Selat sebanyak 3.921 ekor.

Sugiartha merinci sebaran populasi di kecamatan lainnya relatif merata, seperti di Bebandem sebanyak 6.393 ekor dan Manggis 7.081 ekor. Sementara di Kecamatan Abang tercatat 7.097 ekor dan Kecamatan Karangasem mencapai 9.804 ekor. Dari total populasi yang ada, sapi bali betina mendominasi dengan jumlah 52.573 ekor, sedangkan sapi pejantan sebanyak 25.842 ekor.

Dia menguraikan, karakteristik peternak di Karangasem sebagian besar masih merupakan peternak rumahan dengan skala kepemilikan satu hingga tiga ekor saja. Beternak sapi masih menjadi penghasilan sampingan bagi mayoritas warga, kecuali di beberapa desa di Kecamatan Kubu dan Rendang. “Di Desa Pempatan Rendang, satu orang bisa memelihara sampai puluhan ekor sapi karena mereka fokus sebagai peternak,” bebernya.

Meskipun masih didominasi sistem tradisional dengan pakan rumput utama, ternak sapi bali di Karangasem dinilai tetap menjadi sektor unggulan yang potensial. Sugiartha menekankan pentingnya transformasi ke arah peternakan modern, guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternak lokal. Strategi ini diharap mampu mengembalikan kejayaan Karangasem sebagai pemasok utama sapi di Bali. “Potensinya sangat menjanjikan, namun saat ini sebagian besar masyarakat masih beternak dengan cara tradisional,” pungkasnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses