POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Komitmen Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, dalam menekan volume sampah rumah tangga terus diperkuat. Sejak digulirkan pada 2025 lalu, program subsidi pembuatan teba modern disambut antusias warga. Tahun ini saja, jumlah permohonan yang masuk sudah menembus angka ratusan.
Perbekel Desa Lebih, I Wayan Agus Muliana, Rabu (28/1/2026), mengungkapkan, pada tahun 2025 sebanyak 90 unit teba modern terpasang di rumah warga. Sementara pada tahun 2026 permohonan yang masuk lebih dari 100 KK.
“Program ini kami danai dari ADD dengan subsidi Rp 1,5 juta per unit. Warga cukup mengajukan permohonan ke klian banjar atau langsung ke kantor desa, dengan syarat memiliki lokasi dan siap mengelola sampah rumah tangga secara mandiri,” jelasnya.
Dana subsidi tersebut digunakan untuk pembelian buis beton serta ongkos penggalian lokasi teba modern. Untuk memastikan pemanfaatannya berjalan optimal, klian banjar secara rutin melakukan monitoring kepada penerima bantuan. “Hasil evaluasi sejauh ini, seluruh teba modern yang terpasang berfungsi dengan baik. Sampah yang diangkut petugas kini hanya sampah non-organik,” tegas Muliana.
Bagi warga yang masih memanfaatkan layanan TPS3R, dikenakan iuran Rp 10.000 per KK per bulan. Sementara untuk pelaku usaha, besarannya disesuaikan dengan volume sampah, bahkan hotel bisa dikenai iuran hingga Rp 3,5 juta per bulan. Pengangkutan sampah dilakukan sesuai jadwal dengan syarat wajib memilah sampah dari sumber.
“Kalau sampah belum terpilah, tidak kami angkut. Ini bentuk ketegasan agar pengelolaan di TPS3R bisa maksimal,” lugasnya.
TPS3R Widyasari Desa Lebih yang beroperasi sejak 2022 kini dikelola 11 orang, termasuk sopir dan petugas pungut iuran. Meski kesadaran sebagian warga masih rendah, pihak desa bersama klian banjar dan pengelola TPS3R terus menggencarkan sosialisasi pemilahan sampah.
Tak hanya mengelola, TPS3R Widyasari juga menghasilkan pupuk organik. Pupuk tersebut dimanfaatkan petani lokal dan dijual ke Desa Sidan yang mengembangkan pertanian padi organik, dengan harga Rp 1.500 per kilogram.
Namun demikian, operasional TPS3R masih memerlukan subsidi desa. Rata-rata sampah yang masuk mencapai tiga truk per hari atau sekitar 30 meter kubik. Kendala utama saat ini adalah armada pengangkut yang sudah uzur. “Truk-truk lama sering masuk bengkel dan biaya perawatannya cukup tinggi. Ke depan kami berharap ada peremajaan armada,” pungkasnya. adi
























