Permintaan Sapi Bali Diprediksi Meningkat Jelang Idul Adha

KEPALA Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, drh. I Putu Terunanegara. Foto: ist
KEPALA Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, drh. I Putu Terunanegara. Foto: ist

MANGUPURA – Menyandang status sebagai daerah bebas kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) membuka peluang bagi Bali. Mengingat, ternak sekarang ini hanya boleh dilalulintaskan dari daerah bebas menuju daerah bebas.

Jelang Hari Idul Adha pada Juli mendatang, data lalu lintas sapi potong yang dikirim keluar wilayah Bali sudah mencapai 19.502 ekor. Hal itu diperkirakan meningkat dari kuota sapi bali yang dilalulintaskan terkait Idul Adha sebanyak 45 ribuan dari tahun ke tahun.

Bacaan Lainnya

‘’Biasanya puncaknya permintaan itu 2 bulan sampai hari H Idul Adha. Tapi belum sebulan, data lalulintas sapi bali potong sudah mencapai 19 ribuan,’’ ujar Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, drh. I Putu Terunanegara, belum lama ini.

Menurut dia, Bali sebenarnya tidak pernah mengirim sapi potong ke Kalimantan. Namun sejak mewabah PMK di daerah lain, Bali sudah dua kali mengapalkan ternak sapi ke Kalimantan melalui jalur laut Pelabuhan Celukan Bawang, dengan jumlah mencapai 500-an ekor sapi potong. Sedangkan pengiriman ke Jakarta juga dilakukan sekali melalui jalur laut.

‘’Kenapa Kalimantan ambil sapi kita? Hal itu dikarenakan suplai sapi potong yang biasanya dikirim dari wilayah Jawa Timur dan Lombok kini tidak diperbolehkan, karena daerah itu merupakan daerah wabah. Peluang ini harus tetap kami jaga, jangan sampai Bali ikut terkena wabah,’’ sebutnya.

Sebaliknya, kondisi mewabahnya PMK di luar Bali justru akan berdampak pada potensi kelangkaan hewan kambing di Bali. Karena kambing biasanya didatangkan dari Jawa Timur, yang sekarang menyandang status sebagai salah satu daerah wabah.

‘’Jadi hewan ternak kambing berpotensi akan berkurang di Bali. Harga daging kambing akan naik, karena langka. Sebab tidak ada peternakan kambing besar di Bali,’’ ujarnya.

Kondisi tersebut, diakui dia, bisa jadi dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Yang memasukkan kambing ke Bali melalui jalur ilegal. ‘’Menjaga Bali tetap terbabas dari PMK, membutuhkan komitmen bersama semua pihak. Termasuk di antaranya peternak dan para pelaku usaha,’’ lugasnya.

Ia menyampaikan, pihaknya sendiri telah melakukan kolaborasi dengan instansi dan pelaku usaha di lapangan. Yakni dengan melakukan pengawasan 24 jam penuh pada pintu-pintu masuk resmi, seperti Gilimanuk,  Padangbai, Ngurah Rai, dan Benoa.

Untuk pintu pelabuhan resmi, seperti Pelabuhan Gilimanuk sudah dipasang spraying otomart yang secara otomatis menyemprotkan disinfektan. Para peternak juga diminta melakukan bio security, dan penyemprotan mandiri ke kandang ternak mereka. ‘’Sebab kalau Bali sampai terkena, hal itu akan membuat Bali sangat rugi,’’ ujarnya menandaskan. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses