Perlu 2 Titik Bak Lepas Tampung, Sumardi Muak Air Telaga Waja Jadi Bahan Politisasi

ANGGOTA DPRD Karangasem asal Desa Sibetan, Bebandem, I Nengah Sumardi. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, KARANGASEM – Sepekan ini air Telaga Waja yang belum maksimal mengalir ke kawasan Kubu, kerap menjadi bahan politisasi. Hal tersebut membuat anggota DPRD Karangasem asal Desa Sibetan, Bebandem, I Nengah Sumardi muak.

Sumardi mengatakan, selama ini air Telaga Waja memang belum optimal bisa beroperasi. Sebab, belum maksimalnya keterlibatan dari sisi pemerintah daerah. Kebutuhan dana juga besar, sehingga keberlanjutan proyek perlu didesain ulang. “Tidak bisa mengalir ke Kubu, karena tekanan air sangat tinggi dengan pipa. Kestabilannya belum maksimal, sering mengakibatkan ledakan,” katanya, Senin (9/12/2024).

Bacaan Lainnya

Menyikapi hal ini, kata dia, sebenarnya perlu ada dua titik koordinat bak lepas tekan. Ini yang memerlukan lahan tanah. Dalam bunyi klausul perjanjian, lahan inilah perlu difasilitasi oleh pemerintah. Luas lahan sekitar 50 are untuk membangun bak lepas tekan.

Menurutnya, air mengalir dari Telaga Waja sampai di Sibetan. Air ditampung, baru dialirkan lagi karena tekanan tinggi di titik koordinat di kawasan wilayah Datah, Kecamatan Abang. Makanya dibangun satu bak, baru dialirkan ke Kubu. “Di Kubu sempat mengalir. Itu sifatnya flushing, artinya pembersihan pipa model uji coba,” jelasnya.

Sumardi menambahkan, pemerintah sekarang harus mampu memfasilitasi lahan tersebut. Di Sibetan sudah ada lahan, makanya pemerintah mencari appraisal untuk menentukan harga lahannya. Itu dituangkan ke dalam penyusunan RAPBD berikutnya.

“Yang saya tidak suka, hal ini selalu menjadi bahan politisasi. Padahal kalau dikerjakan serius dari dulu sudah beres urusan air Telaga Waja di Karangasem,” serunya menandaskan. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses