Peredaran Narkoba di Bangli Menjamah Perdesasan

  • Whatsapp
KAPOLRES Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan. Foto: ist
KAPOLRES Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan. Foto: ist

BANGLI – Peredaran narkotika di Kabupaten Bangli yang sampai menerobos masuk ke wilayah perdesaan memantik keresahan masyarakat. Salah satu indikatornya adalah terjadi peningkatan pengungkapan penyalahguna narkotika oleh Satuan Reserse Narkotika Polres Bangli. Jika pada tahun 2020 Polres Bangli “hanya” mengungkap 22 kasus penyalahguna narkotika, pada tahun ini sudah ada 15 kasus serupa terjadi meski baru enam bulan berjalan.

Menurut Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, meningkatnya pengungkapan kasus narkotika merupakan tanda keberhasilan dan meningkatnya kinerja polisi dalam memberantas peredaran narkotika. Keberhasilan pengungkapan ini juga dinilai merupakan jalinan kerjasama kepolisian dengan adanya informasi masyarakat; jika masyarakat tahu ada peredaran narkotika mereka langsung melapor ke polisi. “Dengan kerjasama ini, berarti masyarakat sangat sadar akan bahayanya peredaran narkotika,” ulasnya.

Bacaan Lainnya

Kapolres menguraikan, tersangka penyalahguna narkotika jenis apapun yang diungkap selama ini tidak ada yang melibatkan generasi muda dan pelajar. Semua tersangka pengguna maupun kurir yang diterungku polisi berusia 30 tahun ke atas. Meski begitu, dia mengakui sekarang peredaran narkotika tidak hanya di kota, tapi masuk ke pelosok perdesaan. Biasanya para pengedar memanfaatkan media sosial sebagai media transaksi dengan pembeli.

Baca juga :  Selama Pandemi Covid-19, Imigrasi Bali Hanya Layani Pengajuan Paspor Darurat

“Modus ini sudah kami pelajari, dan kami mengajak masyarakat selalu berhati-hati dan langsung melapor jika mendapat ajakan menggunakan atau tawaran narkotika,” pesannya.

Mencegah peredaran narkotika, terangnya, kepolisian terus gencar melakukan sosialisasi melalui bhabinkamtibmas dan safari kamtibmas terkait betapa berbahaya narkotika. Kata dia, untuk remaja dan khususnya anak sekolah memang sekarang ada kesulitan untuk diberi sosialisasi. Sebab, tidak ada pelajaran tatap muka akibat pandemi Covid-19.

“Namun, kami terus berupaya menyosialisasikan bahaya narkotika dalam kegiatan remaja dalam skala kecil, agar mereka sadar apa bahaya narkotika bagi kehidupan dan merusak masa depan,” lugasnya menandaskan. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.