Pentingnya Komunikasi Keluarga untuk Cegah Risiko Bunuh Diri Anak

KABID Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, AA Putu Gede Astara. Foto: ist
KABID Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, AA Putu Gede Astara. Foto: ist

DENPASAR – Kasus gantung diri yang dilakukan siswi kelas 3 SMP di Denpasar, mendapat tanggapan serius dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar. Disdikora sangat menyayangkan kejadian tersebut dan berharap tidak akan terulang lagi.

“Terus terang kami merasa prihatin dan sedih,” ujar Kabid Pembinaan SMP Disdikpora Kota Denpasar, AA Putu Gede Astara, Minggu (5/2/2023).

Read More

Dia meminta agar seluruh elemen memberikan perhatian khusus terhadap kejadian ini. Salah satunya dengan memberikan bimbingan rohani dan mental kepada siswa agar tidak mudah depresi.

Astara juga meminta kepada orang tua untuk melakukan pengawasan, membangun komunikasi yang baik serta memahami karakter anak. ‘’Pencegahan Lebih baik daripada penanganan dan penyembuhan,’’ ujar Astara.

Selain adanya kedekatan serta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak tampaknya dapat menjadi tindakan pencegahan timbulnya ide bunuh diri pada remaja, Astara juga meminta guru BK di sekolah dapat memanfaatkan waktu  untuk mengidentifikasi perilaku remaja yang berisiko adanya pemikiran ataupun tindakan bunuh diri. Selain itu, hendaknya guru BK dapat menjadi sandaran ketika siswa mengalami permasalahan serta melakukan pendampingan agar siswa tidak terjerumus pada tindakan bunuh diri.

‘’Penting bagi guru BK memberikan pemahaman ini kepada siswa untuk mendorong siswa secara mandiri mampu menyelesaikan sendiri masalahnya sesuai dengan tujuan dari layanan BK yaitu memandirikan siswa,’’ ujarnya.

Secara terpisah, psikolog Aritya Widianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog., mengungkapkan, fenomena ini bukan yg pertama, artinya perlu menjadi awarness semua lini. Ia menyebutkan, jelas orang tua atau keluarga menjadi lini awal namun antisipasi hal ini kembali terjadi bukan tugas orang tua saja.

Sekolah juga perlu pembekalan tentang semacam pengetahuan bahkan mungkin pelatihan deteksi dini masalah kesehatan mental. Pemangku kebijakan diminta menggalakkan fasilitas pelayanan kesehatan yang bisa dirujuk bagi masyarakat tak terkecuali remaja untuk menjadi tempat aman mereka menjadi sehat.

‘’Psychological First Aid (PFA) menjadi perlu dilatihkan secara luas karena semua orang bisa melakukan PFA asal memahami konsep dasar dan aplikasinya,’’ ujar dosen Prodi Psikologi Universitas Bali Internasional ini.

Aritya Widianti juga mengingatkan perlu ada perhatian bagi keluarga yang ditinggalkan. Masyarakat sekitar perlu memberi pandangan positif agar mengurangi rasa bersalah dari orang tua. “Tujuannya agar tidak ada efek domino dari kejadian tersebut bagi orang tua, misalnya; tudingan orang tua yang tidak becus mengurus anak dan lainnya,” ujar Aritya Widianti mengingatkan. tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.