DENPASAR – Dinas Kesehatan Kota Denpasar, mencatat sampai Oktober 2022 jumlah kasus HIV dan AIDS yang tercatat di layanan Kesehatan di Kota Denpasar berjumlah 14.577 kasus. Dari jumlah itu, mayoritas penderitanya merupakan usia produktif.
“Penderita kasus HIV paling banyak berasal dari rentang usia 20-29 tahun dengan persentase 38 persen. Lalu disusul usia 30-39 tahun sebesar 34 persen dan usia 40-49 tahun sebesar 16 persen,” ujar Sekretaris KPA Kota Denpasar, Tri Indarti dalam keterangan pers yang diterima Kamis (1/12/2022) di sela-sela pembagian bunga mawar, pita red ribbon dan brosur terkait HIV/AIDS kepada pengendara yang melintas di perempatan Patung Catur Muka, Denpasar, Kamis (1/12/2022).
Sedangkan risiko penularan terbanyak saat ini adalah heteroseksual yaitu 72 persen kasus, homoseksual sebesar 19 persen, melalui penggunaan narkoba suntik sebanyak 4 persen dan dari ibu ke bayinya sebesar 3 persen. “HIV masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional. Kasus HIV di kawasan Asia Tenggara menyumbang 10 persen dari total beban HIV di seluruh dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Tri Indarti, Indonesia bersama-sama negara lain di dunia berupaya mencapai Ending AIDS 2030. Upaya pengendalian dilakukan dengan menerapkan strategi promosi kesehatan, pencegahan, penemuan kasus, dan penanganan kasus dengan didukung berjalannya transformasi kesehatan termasuk penguatan layanan primer, pencapaian cakupan kesehatan semesta, dan pelibatan masyarakat atau komunitas.
“Tantangan penanggulangan HIV/AIDS saat ini cukup besar antara lain, upaya pencegahan yang belum optimal, retensi pengobatan ARV yang masih rendah, masih dirasakannya ketidaksetaraan layanan HIV khususnya pada perempuan, anak dan remaja, serta masih dirasakannya stigma dan diskriminasi,” sebutnya.
“Diperlukan dukungan semua pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan tersebut, baik oleh Pemerintah, akademisi, masyarakat, swasta dan media,” imbuhnya.
Hari AIDS Sedunia pertama kali digagas pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua petugas informasi publik untuk Program Global AIDS Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, demikian dikutip NPR. Dan tanggal 1 Desember 1988 merupakan peringatan Hari AIDS yang pertama.
Sejak itu setiap tanggal 1 Desember banyak negara di dunia memperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Orang-orang diseluruh dunia menunjukkan dukungan bagi mereka yang hidup dengan HIV, juga untuk mengingat mereka yang kehilangan nyawa karena AIDS.
“Peringatannya dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian masyarakat akan pentingnya pencegahan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam pengendalian HIV/AIDS,” ujar Tri Indarti.
Tema Global peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2022 yaitu “Equalize”. Tema ini dipilih mengingat pentingnya mengakhiri ketidaksetaraan yang mendorong terjadinya AIDS di seluruh dunia, khususnya pada perempuan, anak, dan remaja. Tanpa tindakan nyata dan terukur terhadap ketidaksetaraan, dunia termasuk Indonesia berisiko tidak mencapai target untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030.
Sementara tema nasional yang diambil adalah Satukan Langkah Cegah HIV, Semua Setara Akhiri AIDS. Tema ini mengajak kita semua untuk mengulurkan tangan, bergerak bersama, sebagai kekuatan terbesar untuk mengakhiri AIDS di Indonesia dengan mengusung kesetaraan bagi semua, khususnya perempuan, anak, dan remaja.
Sesuai dengan tema tersebut, Tri Indarti, menegaskan betapa pentingnya peran dari seluruh lapisan masyarakat untuk menyukseskan penanggulangan HIV-AIDS yang ditandai dengan dengan tercapainya Three Zero, yaitu zero infeksi baru HIV, zero kematian terkait AIDS, dan zero stigma-diskriminasi.
“Diperlukan dukungan semua pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan tersebut, baik oleh pemerintah pusat dan daerah, akademisi/praktisi, masyarakat, swasta, dan media di sektor kesehatan dan di luar sektor kesehatan,” tutup Tri Indarti. tra
























