MATARAM – Langkah Pemprov NTB yang akan menggunakan sejumlah rusunawa di wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa sebagai salah satu alternatif lokasi penginapan untuk menampung penonton MotoGP di Sirkuit Mandalika, dipastikan tidak mengusir penghuni yang sudah tinggal di rusunawa tersebut.
Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman NTB, Jamaludin, menegaskan, pemetaan rusunawa yang dilakukan Pemprov tidak bermaksud untuk mengusir para penghuni rusunawa yang sudah ada.
Menurut dia, surat Sekda NTB yang dikirimkan pada para pengelola rusunawa yang kini viral terkait pemetaan rusunawa lebih pada upaya pemanfaatan rusunawa yang masih kosong dan belum diserahterimakan pengelolaannya pada Pemda setempat.
‘’Jadi enggak benar kabar kalau kita akan mengusir penghuni rusunawa yang sudah ada di dalamnya. Ini kami luruskan informasi yang beredar itu, bahwa tidak ada pengusiran tapi pemetaan pada kamar yang kosong saja,’’ ujar Jamaludin, Kamis (3/2/2022).
Ia mengatakan, jumlah total rusun di NTB mencapai sekitar 20 ribuan kamar. Rusunawa itu tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Jumlah itu, lanjut Jamaludin, termasuk rusunawa di sejumlah perguruan tinggi, baik negeri dan swasta. Serta, milik Pemkab Lombok Timur di Labuhan Kayangan.
‘’Intinya, semua rusunawa yang masih kosong dan belum diserahterimakan akan kita gunakan. Makanya, kenapa kita adakan rapat gabungan itu. Ini adalah upaya kita mengantisipasi jumlah penonton MotoGP Mandalika yang akan mencapai 100 ribu orang,’’ jelas dia.
Terkait harga dan standar pelayanan, Jamaludin menambahkan, kemanfaatan rusunawa tersebut akan diserahkan sepenuhnya pada Dinas Pariwisata NTB untuk menjual dan mempromosikannya.
‘’Kalau soal siapa yang jualan harga rusunawa, kamu serahkan ke Dispar NTB. Tapi, harganya standar dan itu enggak masuk ke kantong kami di Pemprov. Karena itu, langsung ke masyarakat pengelolanya. Hal ini sesuai dengan arahan Pak Presiden Jokowi, bahwa ajang MotoGP Mandalika akan bisa memberikan efek manfaat pada masyarakat lokal,’’ jelas Jamaludin.
Sementara itu, data Dispar NTB, jumlah kamar hotel, homestay, sarhunta dan camping ground yang siap digunakan sebagai akomodasi MotoGP sebanyak 24.768 kamar. Rumah susun tercatat sebanyak 172 kamar. Nantinya, rusun ini, akan berpotensi digunakan sebanyak 262 kamar berdasarkan hasil identifikasi tim di lapangan, baik di rusun Batulaayar, Kota Mataram hingga Lotim.
‘’Potensi camping ground sudah akan disiapkan sarananya, sumber air bersih termasuk tendanya sudah masuk dalam 24 ribu itu,’’ ucap Kadis Pariwisata NTB, Yusron Hadi.
Jumlah penginapan yang sebanyak 24.768 kamar ini belum termasuk rencana untuk mendatangkan kapal Pelni sebanyak empat unit kapal dengan total 3.500 kamar, kapal Pinisi sebanyak 35 kapal, dan cruise atau kapal pesiar sebanyak unit dengan 4.000 kamar.
Sejauh ini, lanjut Yusron, belum ada gambaran yang pasti terkait dengan beberapa kekurangan kamar saat MotoGP mendatang. Sebab, dari sekitar 100 ribu penonton, sebagian di antaranya adalah penonton lokal atau domestik yang tidak membutuhkan akomodasi. Namun belum bisa dipastikan berapa penonton lokal yang akan menyaksikan balapan tersebut.
Akan tetapi semua kekurangan akomodasi penonton akan berupaya dipenuhi dengan konsep camping ground dan penyediaan rusunawa yang belum ditempati oleh masyarakat. ‘’Mohon sampaikan bahwa penginapan di Lombok masih ready,’’ tandas Yusron Hadi. rul























