MATARAM – Banyaknya wisatawan yang datang ke wilayah NTB, baik domestik maupun mancanegara saat ini, merupakan wisatawan yang tertunda kepergiannya akibat pandemi Covid-19.
Ketua Sahabat Pariwisata Nusantara (Sapana), Furqon Ermansyah atau yang biasa dipanggil Rudy Lombok mengatakan, umumnya sekitar 1.100 wisatawan yang dibawanya usai perhelatan Grand Prix of Indonesia atau MotoGP Mandalika 2022, mayoritas adalah wisatawan yang tertunda berlibur selama dua tahun akibat pandemi Covid-19.
‘’Dari ribuan wisatawan yang saya bawa, hingga kini mayoritas adalah wisatawan nusantara. Mereka berasal dari Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan. Itu tertunda perjalannya akibat pandemi dan sekarang kami cicil mereka datang ke Lombok,” ujar Rudy Lombok, Senin (30/5/2022).
Ia membantah jika banyaknya wisatawan ke Lombok saat ini, dipicu adanya gelaran MotoGP Mandalika 2022. Sebab, dari ribuan wisatawan yang dikelolanya mereka umumnya bukan karena MotoGP datang ke Lombok. Namun karena murni berlibur.
‘’Rata-rata tamu saya itu adalah perusahaan korporasi dan keluarga. Mereka bukan karena penasaran dengan MotoGP Mandalika, tapi memang murni liburan yang terjadwal secara rutin,’’ tegas Rudy Lombok.
Ia meminta Pemprov NTB untuk lebih serius menata ulang program pariwisata. Pasalnya, kendati sudah selesai gelaran MotoGP Mandalika, namun tetap saja jumlah maskapai penerbangan yang melayani tujuan ke Lombok masih terbatas.
Parahnya, sudah jadwal terbatas, persoalan lain, adalah para pelaku wisata harus rela berbagai kursi dengan keberangkatan jamaah umrah ke Tanah Suci Mekkah Al-Mukaromah di Saudi Arabia.
‘’Memang permintaan tamu dari berbagai daerah yang datang ke Lombok sangat banyak. Tapi, karena site kursi maskapai terbatas. Ditambah harus berbagi dengan para jamaah umrah yang akhir-akhir ini, jumlahnya juga membeludak. Akhirnya, kami harus berfikir ulang untuk menerima job tersebut. Padahal, job yang kami terima itu adalah tanggung jawab atas keberangkatan mereka yang tertunda sebelumnya,’’ jelas Rudy Lombok.
Ia mendaku, dari ribuan wisatawan yang dikelolanya, umumnya prevelensi wisatawan asing angkanya hanya sekitar 15-20 persen. Umumnya, wisatawan asing tersebut memilih Tiga Gili (Trawangan, Meno, dan Gili Air) sebagi lokasi favorit liburannya.
Selain itu, mereka datang umumnya berasal dari Pulau Bali. ‘’Kondisi ini, hampir semua travel agent juga sama kayak perusahaan saya. Yakni, mayoritas wisatawan domestik yang mendominasi liburannya ke Lombok ketimbang wisatawan asing,’’ kata Lalu Rudy.
Ia menyarankan pada Gubernur dan Dinas Pariwisata setempat, agar dalam membuat event internasional maupun nasional di wilayah NTB. Sebaiknya persoalan informasi pada travel agent dan organisasi pariwisata dilakukan enam bulan sebelum pelaksanaan event tersebut berlangsung. Hal ini agar pihaknya juga dapat membantu mempromosikan event tersebut pada mitra dan wisatawan asing yang berada pada jaringan usahanya.
Selain itu, lanjut Rudy Lombok, managemen transportasi harus mulai dilakukan perbaikan. Sebab, ia tak menghendaki, insiden puluhan ribuan penumpang dari berbagai daerah di Indonesia yang telantar saat gelaran MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu, terulang kembali pada event pariwisata berikutnya. Tak hanya itu, pembinaan pada masyarakat di sekitar distinasi pariwisata juga wajib mulai menjadi perhatian serius.
”Jujur, banyak tamu yang kami komplain terkait masyarakat lokal di sekitar distinasi yang memaksa wisatawan harus belanja produk yang dijualnya. Padahal, tugas pembinaan masyarakat di sekitar distinasi adalah tanggung jawab pemerintah daerah, baik pemprov dan pemda kabupaten/kota,’’ kata Rudy Lombok.
Menurut dia, Gubernur sebagai pemimpin tertinggi di daerah harus fokus mengurusi sektor pariwisata ini. Mengingat, untuk menopang pemulihan ekonomi masyarakat Lombok pascapandemi Covid-19, hanyalah dengan menggerakkan sektor pariwisata. Oleh karena itu, kegiatan event apapun harus jauh-jauh hari di agendakan dan dibicarakan secara matang dengan semua kalangan pelaku wisata.
‘’Intinya, pelaku pariwisata di NTB, ingin Pak Gubernur fokus mengurusi sektor pariwisata. Keseriusan harus ditunjukkan, jangan lagi ada upaya coba-coba atau main-main lagi. Serta, buat event hanya persiapan sekitar satu bulan. Ini karena pariwisata itu adalah sektor yang butuh kepastian berupa pelayanan dan kenyamanan. Mengingat, kami juga menjual paket wisata itu butuh garansi dan kepastian,’’ tandas Rudy Lombok. rul
























