BANGLI – Tinggi permintaan air bersih yang tidak selalu dipenuhi PDAM Bangli, mengharuskan adanya sumber air baru. Untuk itu, PDAM Bangli mengusulkan ke Pemkab Bangli untuk membangun embung agar dapat menampung air. Hal itu dilontarkan Direktur PDAM Bangli, Dewa Gede Reno Suparso Mesi, belum lama ini.
Dia tidak memungkiri masih banyak keluhan warga yang hanya kebagian “angin” lantaran air tidak mengalir. Kata dia, terkadang saat ada gangguan jaringan pipa, yang keluar lebih dahulu adalah angin. Ini sebagai imbas dari beda ketinggian sumber air dengan permukiman warga begitu jauh, yakni mencapai 100-150 meter.
Penyebab lainnya, karena debit air di sumber mata air yang ada selama ini sulit diprediksi. Terkadang debit air turun sangat drastis yang menyebabkan pipa tidak terisi penuh. “Kami kebanyakan mengangkat air permukaan, jadi debitnya tidak sulit diprediksi,” sebutnya.
Mengatasi persoalan itu, dia berharap Pemkab Bangli bisa memfasilitasi pembangunan embung atau bendungan. Pada pemerintahan Bupati I Nengah Arnawa, gagasan itu hendak dibangun di wilayah Tamansari. Sayang, sampai sekarang belum bisa terwujud, padahal jika embung bisa terwujud maka pelayanan air bersih untuk masyarakat bisa lebih berkelanjutan.
“PDAM bukan murni profit oriented, karena itu kami berharap pemerintah bisa membantu membangun embung. DED sudah ada, tinggal menunggu uluran tangan pemerintah saja,” harapnya.
Mengenai masalah kondisi jaringan, dia berujar saat ini jaringan pipa PDAM Bangli tua dan rawan ada kebocoran. Program peremajaan jaringan terganjal tidak adanya peta jaringan yang ada. “Peta jaringan amburadul, maka kami sulit melacak jaringan mana saja yang sempat diremajakan. Kami juga akan membuat peta jaringan untuk mempermudah teknisi melacak saat ada permasalahan,” tegasnya.
Operasional PDAM Bangli, ungkapnya, tergolong besar karena pengangkatan air sebagian besar menggunakan tenaga listrik. Per bulan biaya listrik saja mencapai Rp700 juta. “Pemasukan hanya 1,8 miliar sebulan, sementara 700 juta sudah terkuras untuk biaya listrik,” pungkasnya. gia
























