Pasraman SMP PGRI 5 Denpasar Ajarkan Siswa Hormat dengan Catur Guru

KEPALA SMP PGRI 5 Denpasar, I Made Radita Berata, berbaur bersama siswa ngulat klakat saat kegiatan pasraman. Foto: ist
KEPALA SMP PGRI 5 Denpasar, I Made Radita Berata, berbaur bersama siswa ngulat klakat saat kegiatan pasraman. Foto: ist

DENPASAR – Untuk menumbuhkan karakter anak-anak, SMP PGRI 5 Denpasar mengisi libur hari raya Galungan dan Kuningan dengan kegiatan pasraman. “Pasraman diselenggarkan sebagai upaya untuk mengisi hari libur siswa dengan kegiatan dan hal-hal yang positif,” ujar Kepala SMP PGRI 5 Denpasar, I Made Radita Berata, S.Pd., Selasa (10/1/2023).

Kegiatan pasraman diikuti seluruh siswa beragama Hindu dari kelas 7 sampai 9 dengan pengajar dari guru agama Hindu sekolah setempat. Pasraman dilangsungkan selama tiga hari mulai Senin (9/1/2023) hingga Rabu (11/1/2023), yang dimulai pada pukul 07.30 Wita hingga pukul 11.30 Wita.

Bacaan Lainnya

Menurut Radita, pasraman ini selain menghindari aktivitas negatif selama libur sekolah, juga meningkatkan sradha dan bhakti kepada Tuhan. Di samping itu sangat baik bagi siswa dan guru menjalankan Jnana dan Bhakti Marga. Radita menekankan pasraman ini juga mengajarkan siswa untuk menghormati Catur Guru yakni Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (di sekolah), Guru Wisesa (pemerintah) dan Swadiaya (Tuhan).

Radita menginginkan di sekolah siswa menghormati gurunya, bukan sebaliknya guru gila hormat. Perilaku positif ini perlu dikembangkan di sekolah mengingat nilai-nilai spiritual ini semakin terkikis di era global.

Kegiatan pasraman diawali dengan pelaksanaan Yoga Pranayama yang dipandu guru ekstrakurikuler yoga. Menurut Radita, yoga  ini merupakan bentuk aktivitas yang memadukan antara olah raga, olah napas, olah rasa dan olah pikir yang dijadikan satu dalam sebuah penyatuan antara jasmani dan rohani guna melatih perkembangan karakter anak kedepannya.

Baca juga :  Relawan Semar Tabanan Ancam Kikis Dominasi Banteng, Sukaja Didaulat Koordinator

Setelah mengikuti yoga, diisi dharma wacana tentang yadnya oleh guru agama Hindu. Penyampaian materi difokuskan pada hakekat sarana upakara. Setelah itu, baru dilanjutkan membuat sarana upakara seperti canang sari, sampyan gantung, endongan, dan tamiang untuk siswa perempuan, serta membuat klakat biasa, dan klakat lanang-wadon untuk siswa laki-laki.  Pembelajaran ini diperlukan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Bali.

Selain mencintai budaya, Radita; didampingi Ketua Panitia Pasraman, Rajendra Purgawa, juga berharap usai kegiatan kebudayaan ini dilaksanakan, para siswa memiliki kemampuan yang berguna untuk membantu orang tuanya terutama menjelang hari raya Kuningan dan  terjun ngayah atau menyama braya di masyarakat.

‘’Dalam kegiatan pasraman ini mencakup tiga aspek penting yaitu pendalaman tatwa, etika dan praktik upacara. Selain itu, juga ditambah teori dan praktik agama untuk menghasilkan insan agama yang suputra sadhu gunawan,’’ ujarnya menandaskan.

Terpisah, Ketua YPLP PGRI Kota Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana, MM., mengajak para siswa SMP PGRI 5 Denpasar untuk konsisten menjalankan Tri Kaya Parisudha. Ajaran Hindu yang universal ini diyakini mampu meredam perbuatan yang melanggar norma.

Jika sudah didasari pikiran dan perkataan yang baik, dan perilaku yang sopan, semua kehidupan manusia pasti berjalan baik. Dengan aktivitas ini ia mengatakan masyarakat yang sekarang sudah cerdas menentukan pilihan pada sekolah berkualitas, akan tetap mempercayakan putra-putrinya bersekolah di SMP PGRI 5 Denpasar. Sekolah ini memang dikenal sungguh-sungguh mengelola pendidikan berkualitas. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.