Nilai Investasi di Buleleng Capai Rp10 Triliun Lebih

  • Whatsapp
KEPALA DPMPTSP Buleleng, Made Kuta. Foto: ist

BULELENG – Pandemi Covid-19 ternyata tidak memengaruhi iklim investasi di Buleleng. Dengan penggunaan sistem Online Single Submission-Risk Based Approach (OSS-RBA), terjadi peningkatan terhadap minat investasi di Buleleng, yakni sebesar 400 persen khusus untuk di tahun 2021, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Buleleng, nilai investasi di Buleleng di tahun 2021 mencapai sekitar Rp10,507 trililun. Padahal, target yang diberikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat hanya Rp891,715 miliar.

Bacaan Lainnya

Kepala DPMPTSP Buleleng, Made Kuta, berkata, tingginya nilai investasi berpengaruh pada tingkat perekonomian di Buleleng. Kuta optimis ekonomi di Buleleng ke depan akan lebih baik.

‘’Target BKPM itu meliputi 8 sektor yakni, industri besar, perikanan, properti, pariwisata, perrdagangan, usaha kecil menengah, kesehatan, dan jasa sebesar Rp1,273 triliun,’’ kata Kuta, Kamis (6/1/2022).

Tagret sebesar Rp1,273 triliun itu, dijelaskan Kuta, terbagi dalam dua model perizinan investasi yakni Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). PMDN ditarget Rp891,715 miliar tapi capaiannya Rp9 triliun lebih.

Sementara sektor PMA diberikan target Rp380 miliar dan realisasinya Rp321 miliar lebih. Sehingga, realisasi pada 2021 sebesar Rp10,57 triliun.

Baca juga :  Kapolda Terima Danlanal Denpasar, Tingkatkan Peran TNI dan Polri Jaga Bali

Dijelaskan Kuta, perbandingan nilai investasi pada 2020 target yang diberikan BPKM Pusat Rp1,243 triliun, namun tercapai hanya 40 persen dari total target. Untuk PMDN tercapai Rp363 miliar lebih. PMA ditarget Rp380 miliar hanya tercapai Rp197 miliar lebih.

‘’Jika melihat data, ada kenaikan signifikan sebesar 400 persen. Ini artinya, investor melirik Buleleng sebagai daerah sangat layak untuk berinvestasi. Sektor terbesar yang memberikan sumbangan investasi dari industri besar dengan adanya penambahan kapasitas PLTU Celukan Bawang,’’ ujar Kuta.

Khusus untuk 2022 ini, lanjut kata Kuta, pihaknya sejauh ini telah menyiapkan pengembangan sektor perikanan. Mengingat sektor ini, punya peluang untuk berkembang seiring perbaikan ekonomi.

‘’Kalau pariwisata kami prediksi masih stagnan karena pandemi, karena itu perikanan akan kami genjot dan disiapkan aturan soal itu,’’ ungkapnya.

Untuk menyiapkan adanya lonjakan investasi ke depan, DPMPTSP telah berkoordinasi dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar bersinergi untuk memberikan kemudahan izin investasi.

‘’Kami optimis angka investasi ini akan terus naik seiring dengan perbaikan sistim melalui proses sistem OSS. Tinggal nanti kami mengevaluasi kelemahan yang akan dikoordinasikan dengan OPD terkait,’’ pungkas Kuta. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.