Ngelawar Sambut HUT RI, 64 Perbekel Tampilkan Ragam Rasa Gianyar

BUPATI Gianyar dan Sekda Gianyar hadirin acara ngelawar perbekel se-Gianyar. Foto: ist
BUPATI Gianyar dan Sekda Gianyar hadirin acara ngelawar perbekel se-Gianyar. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Semangat menyambut HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Gianyar dikemas dengan cara unik. Sebanyak 64 perbekel dari tujuh kecamatan unjuk kebolehan mengolah lawar dalam Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan yang diadakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Gianyar tersebut melibatkan 64 perbekel bersama 64 ketua BPD se-Kabupaten Gianyar. Sementara kegiatan metanding gebogan diikuti para ibu camat bersama 64 ibu perbekel. Para camat juga turut larut dalam kegiatan yang mengusung semangat kebersamaan tersebut.

Read More

Kepala Dinas PMD Gianyar, Gede Daging, mengatakan, parade ngelawar dan metanding gebogan bukan sekadar memeriahkan momentum HUT Provinsi Bali dan HUT Kemerdekaan RI. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya menjaga tradisi dan budaya Bali agar tetap hidup di tengah masyarakat. “Ini kita meriahkan dengan melestarikan seni dan budaya kita di Gianyar. Salah satunya ngelawar dan metanding gebogan,” ujarnya.

Menurutnya, setiap wilayah di Gianyar memiliki karakteristik lawar masing-masing. Perbedaan bahan, racikan hingga cita rasa menjadi kekayaan tersendiri yang patut dipertahankan. “Payangan seperti apa, Tegallalang seperti apa, pasti berbeda. Tidak mungkin sama. Ini merupakan keanekaragaman yang perlu kita jaga, lestarikan dan terus berkelanjutan,” katanya.

Bupati Gianyar, Made Mahayastra, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, lawar tidak hanya berbicara soal kuliner tradisional, tetapi juga menyimpan filosofi mengenai kebersamaan dan keberagaman. “Lawar memiliki makna kebersamaan, keragaman. Kalau salah satu mendominasi, rasanya tidak akan enak,” ujar Mahayastra.

Dia mengibaratkan kehidupan bermasyarakat seperti racikan lawar. Jika garam terlalu dominan, rasa akan menjadi asin. Begitu pula jika cabai terlalu banyak, rasa akan menjadi pedas. Yang enak adalah bagaimana mereka bercampur, bersatu padu, membuat rasa yang enak.

“Itulah lawar, itulah rasa kebersamaan kita di Gianyar,” imbuhnya.

Mahayastra menambahkan, tradisi ngelawar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gianyar. Lawar hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan adat, piodalan maupun acara keluarga.

Tradisi tersebut, lanjut dia, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk membaur dan mengambil peran. Setiap orang bisa berkontribusi sesuai kemampuan ketika berada di tengah lingkungan adat maupun banjar.

“Kalau hadir di tengah-tengah masyarakat, apakah kita bengong? Malu dong kita bengong. Minimal bisa berbaur. Entah kalau tidak bisa dalam hal A, di hal B kita bisa,” ungkapnya memungkasi. adi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.