Menjelang Pilkada Desember 2020, Mantan-mantan Bupati Badung Bermanuver

  • Whatsapp
MADE Nariana, pemimpin Redaksi Pos Bali. foto: ist

Oleh Made Nariana

PADA SUATU MALAM, di suatu tempat, sejumlah mantan Bupati Badung berkumpul. Mereka konon membahas kondisi menjelang Pilkada Badung bulan Desember 2020. Sampai sekarang baru muncul satu calon atas nama Giri Prasta dan Ketut Suiasa (dikenal dengan singkatan Giri Asa). Mereka dijagokan PDI-Perjuangan!

Mantan Bupati yang kumpul di bilangan Denpasar itu, antara lain I Gusti Alit Putra (Demokrat), AA Gde Agung (………tidak jelas), Wayan Subawa (Golkar) yang pernah menjabat sebagai Bupati Badung. Juga hadir sejumlah tokoh partai non PDI-Perjuangan. Tampaknya tidak ikut mantan Bupati Pande Made Latra dan AA Ratmadi dari Puri Satria.

Saya membaca di sebuah berita online, mereka membahas pilkada Badung. Namanya pilkada, pasti juga membahas bakal calon Bupati/Wakil Bupati untuk dilawankan dengan Giri Asa, yang kini sebagai petahana.

Bahasan rincinya tidak disebut dalam berita itu. Intinya mereka mencari dan menginventarisasi siapa tokoh-tokoh yang layak didukung (?), untuk menyaingi petahana sekarang. Sudah pasti, adalah tokoh non PDI-P yang bersedia dicalonkan dan siap bersaing dan bertarung melawan Giri-Asa.

Baca juga :  Menristek: Ventilator untuk Pasien Covid-19 Produksi Indonesia Sebagian Masih Uji Endurance

Salah seorang mantan Bupati itu mengatakan, Badung harus dipimpin orang yang mengerti dan memahami manajemen pemerintahan, Mengabdi sebagai bupati “saking tuwas”, tulus ikhlas demi rakyat. Dan sejumlah teori kepemimpinan seorang kepala daerah disebutkan. Teori mereka, sepertinya — Bupati sekarang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Pertanyaan saya, apakah saat ia menjadi Bupati sudah sesuai dengan teorinya sendiri? Entahlah! Apakah saat ini Giri-Asa tidak memperhatikan rakyat Badung? Masyarakat yang dapat menilai.

Masyarakat banyak tahu, Bupati dan Wakil Bupati sekarang banyak menggelontorkan dana ke masyarakat. Giri Asa dikenal “bares” kepada rakyat. Sampai muncul pertanyaan, Bupati sebelumnya kok tidak seperti itu? Kemana dibawa uang Badung saat itu, yang juga sumbernya sama dari PHR (Pajak Hotel dan restoran)?

Wajar saja muncul pertanyaan seperti itu, sebab ada perbedaan jauh dalam cara menggunakan uang rakyat Badung. Sekarang demi rakyat. Sebelumnya demi siapa?

Baca juga :  BI Dukung Kebijakan Gubernur Koster, Bakal “Roadshow” Sosialisasi Protokol Kesehatan

Bagi saya, siapa saja apalagi mantan Bupati Badung sah-sah saja mencari alternatif sesuai dengan aspirasinya mencari pemimpin Badung. Mereka memiliki hak dan kewajiban memajukan Badung. Tetapi kalau ingin membanding-bandingkan kepemimpinan mereka dengan yang ada sekarang, masyarakat akan jeli dapat membedakan.

Janganlah dilihat ketika dunia termasuk Badung dilanda pandemi Corona (Covid-19) seperti sekarang. Pandemi ini adalah wabah dan masalah semua bangsa yang menghancurkan ekonomi dunia, termasuk pariwisata Bali, khususnya Badung.

Sejumlah negara sekarang dilanda resesi ekonomi. Paling dekat Singapura dan Malaysia sudah kena resesi. Termasuk negara adidaya Amerika Serikat.

Kalau keuangan Badung anjlok gara-gara pandemi Corona dipakai pembanding, bahwa kepemimpinan Badung perlu diganti saat ini tentu tidak adil. Sungguh-sungguh tidak adil.

Tetapi, jika para mantan itu mencari alternatif pemimpin Badung karena tujuan politik dan kekuasaan, tentu sah-sah saja. Mereka berhak memikirkan Badung, sekalipun bicaranya dari luar Badung dengan markas di Denpasar.

Baca juga :  Kejari Awasi Penggunaan Dana Desa, Baru 51 Desa di Buleleng Posting Perubahan APBDes

Masyarakat Badung tahu, siapa pemimpin yang menumpuk kekayaan untuk diri sendiri, dan siapa pemimpin yang tulus untuk rakyatnya!

Politik memang tidak konsisten. Dulu menjadi sahabat dan saling dukung, kini menjadi lawan… lari dari komitmen. Tidak ada sahabat sejati dalam politik. Sahabat sejati adalah sahabat yang tetap dekat dalam kondisi apa pun. (Rumus itu saya lihat tidak berlaku dalam politik Indonesia).

Di saat Badung banyak uang dengan APBD tinggi, semua memberi sanjungan dengan harapan dapat simpati dan bantuan. Bahkan minta dukungan supaya dapat menjadi ini dan itu. (mudah-mudahan para mantan Bupati Badung itu tidak begitu).

Namun begitu, Bali termasuk Badung menjerit akibat wabah dunia Corona, banyak yang menjauh. Malahan membully di medsos. Malah menjelang pilkada membuat intrik-intrik baru.

Saya harap masyarakat tidak heran. Sekali lagi, itulah politikkk…..!
Badung tetap jaya dengan pemimpin yang merakyat, egaliter dan jauh dari sikap feodalisme!. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.