POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Di era yang berlangsung sangat cepat ini, pendidikan perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Keterampilan abad 21 seperti kreatifitas, kerja sama, komunikasi, berpikir kritis, empati, dan berpikir komputasional menjadi sangat penting dikuasai oleh para guru.
Demikian mengemuka pada workshop peningkatan kompetensi guru SD dan SMP dengan tema “Berpikir Komputasional dengan Bahasa Coding” yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar di Universitas Terbuka Denpasar, Kamis (10/4/2025). Workshop diikuti oleh 268 guru yang terdiri dari 222 guru tingkat SD dan 61 guru tingkat SMP.
Kegiatan workshop menghadirkan narasumber Joko Irawan Mumpuni, Direktur Penerbitan Penerbit Andi. Menurut Joko Irawan Mumpuni, ada tiga manfaat yang didapatkan dari belajar berpikir komputasional.
Pertama, siswa terbiasa menghadapi masalah secara terstruktur. Siswa akan mampu menganalisis masalah dan memberikan rekomendasi penyelesaian masalah yang lebih fokus kepada masalah yang sedang dipelajari. Hal ini berarti meningkatkan problem solving peserta didik.
Kedua, keterampilan coding sangat dibutuhkan di masa depan. Hal ini berarti peserta didik dipersiapkan dengan SDM digital. Ketiga, coding mampu memungkinkan ekspresi ide melalui program.
Narasumber yang kedua adalah Agustinus Subardana, memaparkan mengenai bagaimana kiat-kiat menulis. Tentunya mengacu pada regulasi perbukuan, yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.
Salah satu peserta dari SD Anak Emas menanyakan tentang cara membuat dan menerbitkan buku dengan mudah? Penanya lain dari SDN 18 Pemecutan menanyakan apakah ada kaidah mengambil gambar ilustrasi dari internet? Apakah ada perbedaan spesifikasi buku yang ditulis untuk setiap fase?
Sesi kedua workshop diisi dari MGMP Kota Denpasar, yaitu I Putu Tirta Genep, ST, Zakaria Abdul Jalil, S.Kom, dan I Kadek Rico Deriawan. Pada sesi ini lebih fokus kepada pembuatan media pembelajaran berbasis coding. Peserta langsung diajak praktik untuk merancang media pembelajaran berbasis coding.
Menurut salah satu peserta, I Made Gede Agus Sucaya, S.Pd., workshop ini sangat membuka wawasan dan memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih menarik dan relevan dengan kebutuhan zaman. “Kami jadi lebih percaya diri menggunakan teknologi di kelas, bahkan mulai mencoba membuat proyek coding sederhana bersama siswa,” ujarnya.
Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antarguru dalam mengembangkan perangkat ajar berbasis digital, serta mendorong terciptanya komunitas belajar yang terus berkembang di bidang teknologi pendidikan.
Ketua TIK SMP Provinsi Bali, I Gede Eka Nuryada, S.T., M.Pd., mengatakan, dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan para guru mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga mampu menginspirasi siswa untuk menjadi pembelajar aktif di abad ke-21. tra























