Menarikan Rangda Harus Matang Mental-Spiritual

  • Whatsapp
Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Ida Bhawati Agung Wisnawa. Foto: ist
Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Ida Bhawati Agung Wisnawa. Foto: ist

DENPASAR – Insiden penari Rangda tewas tertusuk keris saat pementasan ngurek atau ngunying, Kamis (4/2/2021) di Denpasar bukanlah kejadian yang pertama di Bali. Kejadian serupa sudah terjadi beberapa kali dalam satu dasawarsa terakhir, antara lain pernah terjadi di Karangasem dan Jembrana. Hal ini mengundang keprihatinan dari kalangan pemangat dan praktisi seni pertunjukan tradisional Bali.

Pengamat seni Prof. Dr. I Wayan Dibia, mengungkapkan, pertunjukan kesenian Calonarang dan tarian Rangda sudah mengalami perubahan. Dulu pementasan kesenian tradisional ini tidak menampilkan adegan Rangda ditusuk bertubi-tubi oleh banyak penari. Rangda hanya ditusuk oleh satu orang penari yang disebut Pandung. Adegan itupun hanya berlangsung sebentar.

Bacaan Lainnya

“Di tahun 70an, adegan tikam-tikaman ke penari Rangda ada dalam kesenian Tektekan di Kerambitan, Tabanan. Baru di akhir 80an mulai banyak Calonarang di daerah lainnya yang menonjolkan adegan Rangda ditikam beramai-ramai,” ujar Prof. Dibia saat dihubungi, Minggu (7/2/2021) di Denpasar.

Menurut Prof. Dibia, dengan adanya beberapa kali insiden penari Rangda tertusuk keris, apalagi hingga tewas, semestinya masyarakat lebih hati-hati menyelenggarakan adegan itu. Kehati-hatian itu, pertama, harus disertai dengan persiapan ritual dari penyelenggaraannya yakni aci-aci atau sesaji yang harus disiapkan sedemikan rupa sebelum dan ketika pertunjukan berlangsung.

Kedua, menyiapkan pelaku terutama penari Rangda dengan sebaik-baiknya agar secara fisik, mental, dan spiritual betul-betul siap dalam menghadapi adegan itu. “Dengan begitu kita memang harus betul-betul melakukan seleksi terhadap penari Rangdanya. Kalau ada penari Rangda yang kita yakini belum siap menghadapi tantangan adu kekuatan seperti itu, sebaiknya jangan melakukannya agar tidak mengakibatkan cedera bahkan celaka seperti itu,” katanya.

Baca juga :  Rai Mantra Sambut Rombongan WCC 1.000 KM for Bali Pulih, Misi Bali Aman dan Nyaman Dikunjungi Wisatawan

Guru Besar ISI Denpasar ini mengingatkan, mesti dihindari dalam pertunjukan tersebut adalah jika penari Rangda itu dia sedang mengalami cuntaka, kesebelan, cemer. Penari Rangda yang dalam kondisi seperti itu perlu menghindari adanya adegan penusukan keris oleh penari lainnya atau mengadu kekuatan kekebalan. Kondisi cuntaka, kata dia, juga akan memengaruhi konsentrasi penari Rangda karena dia tahu kondisinya tengah cuntaka.

Prof. Dibia mengamati, adegan penusukan keris ke Rangda berkembang seiring makin maraknya Calonarang memakai bangke-bangkean. Bangke-bangkean dijadikan objek adu kekebakan, lalu Rangda diuji dengan adegan penusukan oleh sejumlah penari. Akhirnya pertunjukan Calonarang menjadi ajang adu kekebalan. “Bukan lagi sebuah dramatari yang menampilkan atau yang melakonkan rahasia-rahasia kekebalan itu. Bukan lagi olahan artistik untuk mengilustrasikan rahasia-rahasia ilmu kebatinan itu,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, insiden penari Rangda tertusuk keris saat pementasan berlangsung bukan saja terjadi pada penari muda. Beberapa kali juga menimpa penari yang sudah dewasa atau tua. “Itu biasanya saya dengar ceritanya itu setelah ditanya-tanya, dia (si penari) baru tahu kalau dia dalam keadaan cemer. Maka saya katakan kalau penari Rangda yang akan mundut Sesuhunan seperti itu, itu harus betul-betul secara mental spiritual itu disiapkan. Kalau penari yang merasa dirinya belum siap untuk melakukan itu, sebaiknya jangan melakukan karena ila ila. Jadi, ada kondisi-kondisi yang perlu diwaspadai kalau tidak ingin celaka,” paparnya.

Lebih jauh Dibia mengatakan, dengan begitu banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam pertunjukan Calonarang atau ngunying ini, mestinya adegan seperti itu dikurangi. “Barangkali ada yang beranggapan, ah, itu cuman kecelakaan. Memang kecelakaan bisa di mana-mana, tetapi kan dengan mengantisipasi sejak awal kemungkinan terjadinya kecelakaan bisa dihindari,” ucap seniman senior asal Desa Singapadu, Gianyar ini.

Baca juga :  Sengketa Pilkada Sumbawa, Keterangan Ahli Belum Gambarkan Kecurangan Terjadi TSM

Dia mengapresiasi semakin banyaknya kawula muda yang menekuni pertunjukan tradisional khususnya Barong dan Rangda. Hal ini menunjukkan bahwa alih generasi terjadi dengan baik. Hanya saja, dia mengingatkan, pengisian diri para penari harus dilakukan dengan baik pula. Dibia menegaskan, penari Rangda tidak cukup hanya bisa menari saja, tetapi harus memiliki mematangkan jiwa, mental, dan spiritual.

“Kalau dia hanya siap untuk menari saja, lakukan itu, tetapi jangan ada adegan tikam-tikaman. Kalau tidak yakin, kalau tidak ada senior yang bisa menjamin dia akan selamat, jangan melakukan adegan itu. Kasihan anak muda yang begitu jadi korban. Bagi saya, ini yang saya sayangkan. Jangan sekadar majengah-jengahan,” pungkas Dibia.

Sementara itu, pelaku pertunjukan Calonarang dari Sanggar Genta Wisesa, Ida Bhawati Agung Wisnawa, mengatakan, kini banyak fenomena pelaku Calonarang tidak bisa membedakan yang mana pertunjukan (hiburan) dan yang mana bersifat sakral. Terkadang tarian yang harusnya sebuah pementasan sakral sesuai pakem justru dipakai pertunjukan hiburan untuk menarik penonton.

“Calonarang sekarang lebih bergeser ke pertunjukan. Jadi, harusnya di sana ada trik atau strategi dalam menarik perhatian penonton. Harus dipertimbangkan safety (keamanan) untuk para pemain. Termasuk dari sang pengunying dan penari Rangda seharusnya ada trik atau teknik khusus di luar hal spiritual,” katanya, Minggu (7/2/2021).

Dia menjelaskan, kalau pakem sakral, penari Rangda dalam pementasan itu pasti merupakan orang pilihan atau pemangku yang nyolahang (menarikan). Dalam hal itu, sudah pasti tidak ada proses yang di luar pakem. “Fenomena sekarang berbeda, penari kebanyakan anak muda yang masih labil. Dalam pertunjukan terkadang melepas tapel, mengambil penonton, dan adegan berbahaya lainnya,” tuturnya.

Baca juga :  TGPP Covid-19 Gianyar Galakkan Sosialisasi Prokes

Lebih lanjut Agung Wisnawa mengungkapkan, kalau seandainya dalam pertunjukan itu mengikuti prosedur, pelaksanaan kegiatan kesenian itu tidak akan terjadi masalah. Begitu terjadi masalah, menurutnya, berarti ada salah prosedur dalam pelaksanaannya. Apakah dari pakemnya, keamanannya, proses upacaranya. Dari segi pakem, jelasnya, yang berhak nusuk Rangda hanya satu orang saja. Tetapi, dalam perkembangannya, ada lagi tambahan-tambahan ngunying dan lain sebgainya.

“Nah itu mungkin desa mawacara. Lalu itu dimasuk-masukkan ke dalam ide cerita yang tidak nyambung saya rasa. Misalnya, Penyalonarangan Walu Nateng Dirah. Patih Taskara Maguna saja yang melakukan penikaman. Tetapi dalam pertunjukan kini banyak ada tukang tebek, nah ini yang jadi pertanyaan, apanya ini? Ini kan tidak masuk dalam cerita,” paparnya.

Melalui kejadian di Denpasar beberapa hari yang lalu, Agung Wisnawa sangat mengharapkan para generasi muda yang masih labil belajar lebih dalam lagi mengenai makna tarian Rangda. Kata dia, terkadang pemuda baru memiliki keberanian saja sudah merasa menguasai tarian Rangda. Bahkan, kata dia, terkadang gerakan penari Rangda disamakan dengan gerakan Jauk, padahal jauh berbeda.

“Jadi, pelajari dulu pakem pakemnya, minimal tahu dulu pakemnya. Kalau sudah tahu pakem, mengembangkan lebih gampang. Rangda itu kan sudah lingsir, tua, bagaimana menarikannya? Gerakannya seperti apa? Itu harus benar dipahami pakemnya,” jelasnya.

Agung Wisnawa pun mengajak masyakat untuk mengambil hikmah atas kejadian ini. “Boleh teguh dalam ilmu kebatinan dan senjata, tapi perhatikan keselamatan. Sama seperti memakai helm, walaupun Anda ahli dalam berkendara, tetapi tidak ada salahnya anda berjaga diri. Rwa bineda selalu berdampingan. Anda kebal anda juga punya kelemahan,” ucapnya.

Menurutnya, wajar saja seniman mengikuti perkembangan yang ada dalam pertunjukan tradisional. Oleh karena itu, perlu belajar meningkatkan metode-metode tertentu agar pertunjukan ini aman. “Kalau ternyata sudah bisa melakukan itu tanpa pengaman dan tidak pernah luka, tetapi sekarang luka, mungkin saja ada yang kurang atau salah secara niskala. Nah, hal-hal seperti itu di luar batas tiang. Tetapi saya yakini pasti ada salah prosedur sampai terjadi seperti ini (kecelakaan),” ucapnya.

Agung Wisnawa mengingatkan, apapun ilmu atau kesenian yang dimiliki, kalau mengandung unsur risiko tinggi, tetap keamanan harus diprioritaskan. Kata dia, biarlah seni Calonarang dijadikan tontonan yang menarik, tapi tetap waspada dan jangan lengah. Pelaku seni jangan nenonjolkan keegoan sendiri. “Kembangkan pakem Calonarang agar menarik dan diminati penonton, tapi jaga diri terhadap risiko jangan diabaikan,” ujarnya. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.