Memimpikan Giri Dibentengi Mantra

  • Whatsapp
Gus Hendra
Gus Hendra

MEDIA sosial seperti Facebook memang ruang terbuka berbagi isu apa saja, atau bergosip tentang siapa saja. Politik tentu masuk dalam topik obrolan di dunia maya ini, entah serius atau sekadar iseng. Satu topik “guyonan” sempat tersaji di salah satu akun grup “Suara Badung” di Facebook, yang membuat simulasi pasangan calon untuk di Pilgub Bali 2024. Adalah Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta, yang diduetkan dengan IB Rai Dharmawijaya Mantra, mantan Wali Kota Denpasar cum mantan calon Gubernur Bali 2018. Foto keduanya disandingkan, di bawahnya diisi tulisan “Relawan Giri Mantra”.

Melihat cara membuat gambar dan memposting, hampir bisa dipastikan pembuatnya tidak izin ke Giri atau Rai Mantra. Lebih sebagai upaya menera respons publik atas gagasan itu. Jika lebih banyak komentar negatif, postingan itu akan berlalu begitu saja. Sebaliknya, jika banyak positifnya, bukan tidak mungkin diolah untuk dikapitalisasi demi kepentingan elektoral; terlepas siapa pihak yang akan memakainya sebagai parameter elektoral.

Bacaan Lainnya

Karena postingan itu iseng, tidak salah juga jika dibincangkan secara iseng pula. Begini, secara matematis, Giri sulit mendapat chemistry dengan Rai Mantra. Sebab, Giri sebagai panglima Tim Pemenangan Koster-Ace pada Pilgub 2018, dan saat itu Rai Mantra-Sudikerta menjadi seteru yang ditumbangkan. Kemudian, Rai Mantra pribadi dan sekutunya sulit rasanya mendapati diri dari sebagai calon Gubernur kini “turun kelas” menjadi calon Wakil Gubernur.

Baca juga :  IGK Kresna Budi: Rintis Kemandirian Listrik

Memang, Jusuf Kalla (JK) pernah mengalami situasi dilematis itu ketika Pilpres 2009 menjadi capres, tapi Pilpres 2014 menjadi cawapres. Benar juga bahwa politik itu cair, dan semua kemungkinan bisa terjadi sebagaimana dikatakan mantan Perdana Menteri Britania Raya, Winston Churchill: “Beberapa orang mengubah partai mereka demi prinsip mereka; yang lain, mengubah prinsip mereka demi partai mereka”. Tetapi, untuk skala lokal plus faktor sosiologis dan budaya yang menaungi Rai Mantra, situasi serupa JK relatif sulit terwujud.

Bagaimana jika dibalik, Rai Mantra-Giri Prasta? Sama saja, mereka berpotensi canggung dan tanggung. Publik di Bali tahu, para pendukung Giri getol mempromosikan Giri menjadi suksesor Gubernur Koster. Masa nanti cuma dijadikan calon Wakil Gubernur? Bahwa situasi sama pernah menimpa Sudikerta, tapi beda popularitas dan elektabilitas antara Giri dan Sudikerta.

Dengan modal popularitas Bupati bares dan jargon “uang rakyat kembali ke rakyat” yang digembar-gemborkan sejak 2016, Giri diklaim sebagai persona tangguh bagi siapapun yang kelak jadi rivalnya. Dulu, saat Kabupaten Badung masih kaya, Giri punya gaya menyalurkan bansos ratusan juta sampai miliaran rupiah ke masyarakat Badung (dan enam kabupaten lain di Bali) secara tunai. Kebiasaan ini sempat ditegur Gubernur Mangku Pastika tahun 2017, karena selain dianggap menyalahi aturan dan rawan risiko, cara yang benar adalah lewat transfer rekening.

Baca juga :  Puskesmas Tolak APD Golkar, Dinkes Gianyar Alasan Harus Lewat Satgas Covid-19

Meski cara tunai itu salah, toh yang menerima senang-senang saja. Ini dapat dimaknai popularitas Giri sangat tinggi, sehingga dia salah pun tetap dianggap “tidak masalah”. Bila sudah ada popularitas semacam itu, tentu tidak begitu sulit mengatrol elektabilitas.

Selain itu, jika Giri dijadikan cawagub di luar PDIP yang sedang berkuasa, jelas itu salah satu pilihan konyol yang pernah dilakukan politisi di Bali, jika bukan yang terkonyol. Logikanya, tanpa kerja keras pun peluang Giri menjadi cawagub pendamping Koster, dengan asumsi Koster tetap direkomendasi sebagai cagub, hampir pasti terjadi. Jadi, buat apa capek-capek keluar dari PDIP, yang tentu sangat berisiko tinggi secara karir politik, jika kemudian tetap saja jadi cawagub?

Hanya, satu hal menonjol di sini adalah wacana Pilgub seakan berputar di sosok Koster dan Giri belaka. Terus bergaungnya nama Giri dan Koster itu juga bisa dimaknai sebagai masih miskinnya sementara ini sosok lain untuk berani unjuk gigi. Entah dibahas dengan nada negatif atau positif di masyarakat, Koster dan Giri tetap mendapat keuntungan karena namanya terus diingat.

Karena itu, melihat konstelasi cerita di balik layar tersebut, lebih mungkin rasanya melihat UFO mendarat di Lapangan Renon ketimbang melihat Rai Mantra membentengi Giri dalam satu bahtera pada kontestasi politik. Hanya, cocoklogi simulasi paket semacam ini juga oke-oke saja untuk memberi edukasi politik kepada publik. Dengan kian banyak sosok yang diwacanakan ke publik, kian beragam juga alternatif pilihan calon untuk pemilih jika benar sosok dimaksud turun gelanggang Pilgub 2024. Minimal, Pilgub tidak menghadirkan figur yang “itu itu saja”.

Baca juga :  Gede Dana Hadiri Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba dan HIV/AIDS

Satu lagi, berhubung kaum milenial banyak menjadi pemilih saat Pilgub 2024, tidak ada salahnya juga parpol medioker menebar nama kader atau sosok muda yang potensial dijadikan calon, minimal sebagai vote getter, kaum milenial di Pilgub. Gus Hendra 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.