POSMERDEKA.COM, BANGLI – Meski harga gabah mengalami kenaikan sangat signifikan di pasaran, petani di Kabupaten Bangli tidak terlalu menikmati momentum tersebut. Luas lahan kepemilikan yang terbatas, membuat hasil panen hanya untuk konsumsi saja. “Secara langsung kenaikan harga gabah tidak terlalu berimbas kepada petani,” ujar Kadis Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma, saat dihubungi, Rabu (13/9/2023).
Mengenai penyebab kenaikan harga gabah, Sarma berujar tidak bisa berbicara untuk lanskap Bangli saja. Sebab, kenaikan terjadi di seluruh Indonesia. “Penebas asal Bangli banyak yang keluar beli padi, dan harganya juga naik,” katanya.
Terkait dampak musim kemarau terhadap pola tanam di Bangli, Sarma menyebut sejauh ini memang belum berdampak. Alasannya, sebagian besar petani di Bangli tengah memasuki musim panen. Dia menjelaskan, petani di Bangli akan memasuki musim panen pada bulan Oktober. “Semoga saja saat petani kita memasuki musim tanam, hujan sudah turun. Jadi, mereka tidak risau lagi terkait dengan kekurangan air,” harapnya.
Untuk harga gabah saat ini di Bangli, papar birokrat asal Tembuku ini, sesuai hasil pemantauan tim, gabah kering panen (GKP) per 12 September mencapai Rp6.000 per kilogram. Kenaikan harga gabah turut berimbas terhadap kenaikan harga beras di pasaran. Untuk beras medium I harganya mencapai Rp12.000 per kilo, dan harga beras medium II harganya menembus Rp11.400 per kilo. gia























