POSMERDEKA.COM, MATARAM – Dalam Pilkada Serentak 2024 di NTB, sejumlah tokoh yang berniat mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah mulai memasang alat peraga seperti spanduk, baliho, bahkan billboard di sejumlah tempat.
Di Kota Mataram, kendati belum menyatakan sikap untuk tampil di Pilkada Mataram, baliho Putu Selly Andayani kini banyak menghiasi sudut kota. Salah satunya di Pasar ACC dan Kebon Roek, Kecamatan Ampenan.
Sejumlah pedagang di Pasar ACC, Kecamatan Ampenan mengaku baliho Selly Andayani sejak dua hari lalu terpasang di depan pasar tersebut. “Yang masang itu katanya relawan Bu Selly. Mereka banyak anak-anak muda,” kata Ahmad Mamat, salah satu tukang ojek yang kerap mangkal di Pasar ACC, Kamis (30/5/2024).
Menurut bapak dua anak ini, dia sangat mengenal sosok istri Ketua DPD PDIP NTB tersebut. Sebab, saat menjabat sebagai Pj. Wali Kota Mataram, seluruh pasar dan lingkungan di Mataram berhasil dibersihkan. Caranya dengan mengajak para ASN, TNI/Polri hingga masyarakat bergotong royong bersama setiap hari Jumat.
“Beliau masih kita kenal dengan jelas, karena sempat mencalonkan diri sebagai Calon Wali Kota tahun 2020. Kendati kalah, tapi stiker beliau masih ada di rumah saya,” tutur warga Lingkungan Sintung, Kelurahan Banjar ini.
Senada Mamat, pedagang pasar Kebon Roek, Inaq Rasiah, juga mengaku mengenal betul sosok Putu Selly Andayani. Saat masih aktif menjadi Kepala Dinas Perdagangan NTB, Selly aktif mendatangi pasar-pasar tradisional di Kota Mataram. Salah satunya di Pasar Kebon Roek.
“Saya kenal Ibu Selly, beliau rajin turun menyapa kami untuk mengecek harga kebutuhan pokok hingga stok beras yang kami jual. Kalau beliau misalnya maju sebagai calon Wali Kota, itu baik sekali dan harapan kami sebagai pedagang pasar,” jelasnya.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Ihsan Hamid, menilai munculnya gerakan relawan untuk memasang baliho Selly Andayani sangat baik bagi tumbuhnya iklim demokrasi di Kota Mataram. Jika relawan bergotong royong dengan sukarela memasang sendiri, tentu figur itu punya kedekatan dengan rakyat.
“Di tengah hegemoni baru satu kandidat yang kini muncul, yakni Mohan Roliskana yang berstatus sebagai petahana, kehadiran relawan yang memasang baliho Ibu Selly, jelas menunjukkan masyarakat ingin ada figur alternatif di luar Pak Mohan,” tegas Ihsan.
Ketika melihat komposisi figur yang kini muncul di Pilkada Kota Mataram, dia mendaku miris. Sebab, Kota Mataram adalah etalase dan barometer elektoral demokrasi, yang seharusnya banyak figur harus disiapkan oleh partai politik untuk tampil di Pilkada. Dia mendorong partai politik pemilik suara besar di Kota Mataram seperti Partai Gerindra, PKS, Demokrat hingga PPP, dan PDIP harus berani mengeluarkan figur terbaiknya.
“Sayang jika Kota Mataram nanti hanya satu figur calon Wali Kota yang muncul. Hadirnya relawan memasang baliho Ibu Selly inilah bentuk perlawanan masyarakat kepada parpol yang masih adem ayem hingga kini,” serunya.
Mohan, sambungnya, dari sejumlah survei yang sempat diikuti, tidak terlalu signifikan tingkat elektabilitasnya. Hal ini dipicu karena belum ada program pembangunan yang nyata dapat dirasakan masyarakat. Makanya jika parpol di Mataram diam-diam saja, patut dipertanyakan bagaimana kaderisasi dan sistem rekrutmen yang dilakukan selama ini.
“Saya kira dengan strategi bagus, kampanye yang keterkinian dengan didampingi konsultan dan para ahli yang teruji dari lembaga survei nasional, saya yakini Pak Mohan bisa dikalahkan kok,” cetusnya memungkasi. rul
























