Manuver PDIP NTB Dinilai Teatrikal Politik, Pesan Simbolik Rangkul Seteru Jadi Sekutu

  • Whatsapp
DIREKTUR M-16, Bambang Mei Finarwanto (kanan), saat bersama Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat (tengah). Foto: rul
DIREKTUR M-16, Bambang Mei Finarwanto (kanan), saat bersama Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat (tengah). Foto: rul

MATARAM – Lembaga kajian sosial dan politik NTB, M-16, menilai tiga langkah manuver politik Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat, akhir-akhir ini merupakan pesan politik jika dikaji dari sisi panggung depan. Perilaku politisi gaek itu ibarat satu rangkaian yang tak terpisahkan, yakni kental bermuatan pesan humanis dan saling memanusiakan. 

“PDIP NTB sedang memberi pesan sekaligus teka-teki moral dan politik dengan cara yang tidak biasa. Hal ini tentu hanya dipahami politisi yang paham maksud,” kata Direktur M-16, Bambang Mei Finarwanto, Rabu (5/1/2022). 

Bacaan Lainnya

Menurut dia, ayunan Rachmat tidak sesederhana yang dipahami. Saat mendengar aspirasi dan ucapan terima kasih masyarakat Lombok Tengah kepada Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri terkait perhatian Jakarta kepada Lombok Tengah, dia mengenakan baju merah khas partai. Hal tersebut dinilai tidak berdiri sendiri dan bebas nilai. 

“Pasti ada peristiwa yang melatarbelakanginya, seolah-olah Lombok Tengah ingin meluruskan  sejarah yang sesungguhnya agar publik tidak mudah dikelabui aneka pencitraan yang melupakan tonggak awal,” duganya. 

Menurut Bambang, pertemuan antara Rachmat dan mantan Bupati Lombok Tengah (Loteng), Suhaili, terkait KEK Mandalika Resort bertujuan agar sejarah itu tidak dilupakan dan dinafikan kepentingan sesaat. Intinya, kata dia, para pemangku kebijakan di Loteng dan Ketua PDIP NTB hanya ingin sejarah diluruskan agar off side-nya tidak keterusan.

Baca juga :  Denpasar Gelar Lomba Desain Paket Booth Virtual, Dukung Digitalisasi Promosi IKM/UKM

Terkait kehadiran Rachmat pada pelantikan HL Pathul Bahri sebagai Ketua DPD Partai Gerindra NTB, dia melihat itu sebagai sinyal awal pembentukan koalisi politik antara Gerindra dan PDIP menyongsong kontestasi elektoral tahun 2024. Dalam momentum tersebut, ulasnya, seolah-olah Gerindra dan PDIP NTB ingin mengirim pesan kepada publik tentang koalisi Gerindra dan PDIP tidak terpisahkan menyambut pesta demokrasi tahun 2024.

“Sebagai partai yang sama-sama mengusung platform nasionalis, tentu koalisi Gerindra dan PDIP lebih mudah merawatnya dari benturan perbedaan ideologi. Ini juga bisa diartikan koalisi ramping untuk mengurangi dan menekan beban biaya politik, (jadi) sangat dimungkinkan,” sambung Bambang.

Lebih jauh diutarakan, manuver ketiga Rachmat dengan mengapresiasi kinerja Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, yang juga Ketua DPD Partai Golkar NTB. Langkah itu dapat berdampak menaikkan citra baik pemimpin Kota Mataram di mata publik. Apalagi dalam Pilkada Mataram tahun 2020 lalu, PDIP dan Golkar saling berhadapan mengusung calonnya. “Di sini terlihat Pak Rachmat mampu move on dan menghilangkan dendam politik. Maka tiga langkah politik PDIP NTB ini tentu tidak akan berhenti, dan pasti akan mendapat kontraksi politik untuk mengimbanginya,” papar dia.

Langkah Rachmat, sambungnya, bisa ditafsirkan sebagai upaya PDIP membangun persepsi politik yang baik di mata publik. Sebab, di tengah apatisme dan persepsi negatif masyarakat terhadap praktik politik, upaya pencerahan agar pola pikir simplifikasi serta stigma yang kontra produktif terhadap perbedaan, harus terus dilakukan.

Baca juga :  Bangli Terima 997 Formasi CPNS

“Pandangan saya, sesama partai berideologi nasionalis, PDIP sedang merawat dan menyemai kebersamaan dalam menyongsong kepemimpinan masa depan pada kontestasi tahun 2024 mendatang,” tandasnya. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.