Lokasi Bandara di Buleleng Barat Terkesan Dipaksakan

  • Whatsapp
ANGGOTA Komisi III DPRD Provinsi Bali, Jro Nyoman Ray Yusha. Foto: rik
ANGGOTA Komisi III DPRD Provinsi Bali, Jro Nyoman Ray Yusha. Foto: rik

BULELENG – Kepastian lokasi bandara Bali utara hingga kini belum ada kejelasan. Pasalnya, pemerintah pusat dalam hal ini melalui Kementerian Perhubungan RI belum mengeluarkan penlok. Sontak polemik terkait dengan lokasi keberadaan bandara Bali Utara saat ini semakin tidak ada kejelasan.

Sebelumnya, lokasi bandara Bali utara direncanakan berada di wilayah Desa Kubutambahan, Buleleng. Hanya saja lokasi itu, dianggap tidak layak akibat adanya persoalan lahan, sehingga lokasi bandara dipindah ke wilayah desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Bacaan Lainnya

Dan terbaru, Pemkab Buleleng telah mulai menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) pembangunan Bandara Bali Baru di Buleleng, dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD), untuk mendapat masukan dari masyarakat terkait dengan rencana bandara Bali utara.

Hanya saja rencana pemindahan lokasi bandara Bali utara di wilayah Desa Sumberklampok, menuai polemik. Anggota Komisi III DPRD Provinsi Bali, Jro Nyoman Ray Yusha, pun mendesak, agar pemerintah untuk mengkaji ulang rencana lokasi bandara Bali utara di wilayah Desa Sumberklampok.

Menurut Ray Yusha, rencana lokasi bandara di wilayah Buleleng barat termasuk penyusunan RDTR oleh Pemkab Buleleng terkesan sangat dipaksakan. Terlebih, lokasi yang bakal dijadikan bandara berada di areal kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang merupakan areal hutan lengkap dengan satwa yang langka dan dilindungi Negara.

Baca juga :  Komitmen Atasi Masalah Sampah di Bali, Wedoo Workshop Produksi Mesin Daur Ulang yang Terjangkau

Tak hanya itu, secara teknis tidak memenuhi syarat berdasarkan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan. ‘’Rencana lokasi bandara di Sumberklampok sudah tidak layak, dari sisi geografis dan teknis. Di tempat itu banyak ada hewan langka yang semestinya di lindungi karena bernilai tinggi dan dijaga jangan sampi punah,’’ kata Ray Yusha, Selasa (21/9/2021).

Kawasan TNBB, sebut Ray Yusha, harus dijaga dan dilestarikan, agar menjadi kawasan penyangga untuk keseimbangan lingkungan. Untuk itu, Ray Yusha yang juga politisi partai Gerindra asal Desa Tajun ini meminta, agar lokasi bandara di Sumberklampok tidak dilanjutkan pembahasannya.

‘’Kalau secara ekonomi lokasi bandara di Kubutambahan jauh menguntungkan. Soal ada masalah lahan, cost penyelesaian lebih kecil daripada di barat. Jika pemerintah ingin, semua bisa diatasi termasuk soal lahan yang dikuasai swasta,’’ ujar Ray Yusha.

Jika lokasi bandara tetap berada di Sumberklampok, maka Ray Yusha yakin, kerugian yang ditimbulkan jauh lebih besar ketimbang di Desa Kubutambahan. ‘’Jika dipaksakan punah semua keanekaragaman hayatinya di sana. Itu jelas tidak sejalan dengan konsep Gubernur Bali soal Nangun Sad Kerthi Loka Bali,’’ pungkas Ray Yusha. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.