Limbah Bekas Penanganan Covid-19 Harus Diapakan?

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

MANGUPURA – Pemerintah Kabupaten Badung mengeluarkan surat perihal pengelolaan limbah infeksius (B3) dan sampah rumah tangga dari penanganan Covid-19. Surat yang ditandatangani Sekda Badung, I Wayan Adi Arnawa, atas nama Bupati Badung tersebut ditujukan kepada camat, lurah, majelis desa adat kecamatan di Kabupaten Badung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung, Wayan Puja, menerangkan surat tersebut menindaklanjuti Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 dan Surat Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Nomor 660/1536/PSLB3PPKLH/LH/DKLH. “Itu merupakan imbauan, meneruskan surat dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Itu sudah kita teruskan ke masing-masing wilayah,” sebutnya, Selasa (21/4/2020).

Baca juga :  Presiden Jokowi Minta Pemulihan Ekonomi Dilakukan Secara Hati-hati

Dipaparkannya, dalam surat tersebut tercantum langkah-langkah penanganan limbah terkait. Dimana limbah tersebut terbagi menjadi tiga kategori, yaitu limbah yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, limbah dari ODP dan sampah rumah tangga atau sejenisnya.

Untuk limbah infeksius yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), penanganannya dilakukan dengan cara menyimpan dalam kemasan tertutup paling lama dua hari sejak dihasilkan. Limbah tersebut kemudian diangkut dan dimusnahkan nantinya pada pengolahan limbah B3 (fasilitas incinerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat Celcius atau Autoclave yang dilengkapi dengan pencacah (shredder).

Limbah tersebut pengkemasan dilekati simbol ‘beracun’ dan label limbah B3, untuk selanjutnya disimpan di tempat penyimpanan sementara dan diserahkan kepada pengelola limbah B3.

Baca juga :  WHO Sebut Pandemi Belum Berakhir, Kasus Covid-19 Masih Tinggi

Sedangkan untuk limbah infeksius yang berasal dari orang dalam pengawasan (ODP) yang berasal dari rumah tangga, dilakukan dengan cara mengumpulkan limbah infeksius berupa APD (masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri), untuk kemudian dikemas tersendiri dengan menggunakan wadah tertutup. Dimana kemasan limbah infeksius tersebut dibubuhkan tulisan ‘limbah infeksius’. Selanjutnya limbah tersebut agar diangkut dan diserahkan ke fasyankes terdekat dan diteruskan ke pengelola limbah B3 berizin.

Sementara untuk pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga. Para petugas kebersihan atau pengangkut sampah diwajibkan lengkap dengan APD khususnya masker, sarung tangan, dan safety shoes yang setiap hari harus disucihamakan. Hal tersebut dilakukan dalam upaya mengurangi timbulan sampah masker.

Baca juga :  Kabar Buruk Para Gibol, TVRI Tidak Lagi Siarkan Liga Inggris, Ini Alasannya!

Begitu juga masyarakat yang sehat, juga diimbau menggunakan masker guna ulang yang dicuci setiap hari. Bagi masyarakat yang sehat dan menggunakan masker sekali pakai (disposable mask), mereka diharuskan merobek, memotong, ataupun menggunting masker bersangkutan, dan dikemas rapi sebelum dibuang ke tempat sampah untuk menghindari penyalahgunaan. Masyarakat juga diarahkan untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau pembersih tangan bila tidak ada sarana cuci tangan. 023

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.