Libur Hari Raya Galungan dan Kuningan, Disdikpora Denpasar: Momentum Meningkatkan Srada dan Bhakti

KEPALA Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama. Foto: tra
KEPALA Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama. Foto: tra

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Menyambut hari raya Galungan yang jatuh pada Rabu (23/4/2025), dan hari raya Kuningan pada Sabtu (3/5/2025), persekolahan di Bali libur selama dua pekan, mulai 21 April sampai dengan 2 Mei 2025. Siswa mulai bersekolah pada Senin (5/5/2025). Libur hari raya Galungan dan Kuningan ini sesuai kalender pendidikan Bali tahun ajaran 2024/2025.

Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Anak Agung Gede Wiratama, mengungkapkan, momentum hari raya Galungan dan Kuningan, sangat tepat dimanfaatkan sebagai media strategis untuk mentransformasikan nilai-nilai agama, budaya, dan karakter pada para pelajar. “Libur sekolah serangkaian hari raya Galungan dan Kuningan ini bisa dipakai media menguatkan karakter bagi pelajar dan pemuda,” kata Wiratama, Senin (21/4/2025).

Read More

Menurut Wiratama, libur hari raya Galungan dan Kuningan mesti berguna bagi anak-anak dalam rangka pendalaman sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di samping itu, libur hari raya tersebut digunakan untuk mentransfer nilai-nilai agama, budaya, dan karakter.

“Dengan begitu, anak didik betul-betul mendapatkan pengayaan yang matang tentang ajaran agama yang dianutnya. Demikian juga pengayaan mereka terhadap budaya,” ujarnya. 

Agung Wiratama menyebutkan, ada tiga hal pokok yang baik diberikan kepada pelajar dan pemuda dalam membentuk karakter. Pertama, mengetahui tentang jati diri mereka. Pada fase ini pemuda biasanya ada pada kondisi labil dan sedang mencari jati diri.

Kedua, sebagai momentum pemuliaan pada budaya dan kearifan lokal. Budaya dan kearifan lokal banyak berisi nilai hidup kehidupan untuk cipta rasa dan karsanya sebagai kekuatan individu menghadapi perubahan peradaban. Dan, ketiga mengagungkan agama sebagai kekuatan keyakinan untuk memuliakan harkat derajat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Agama mendorong manusia berpegang teguh dengan cara hidup yang selalu mematuhi kebaikan dan kebenaran.

Ia menambahkan, orang tua harus melibatkan mereka (anak-anak) dalam membuat sesajen atau perlengkapan sarana ritual lainnya agar liburan tersebut bermanfaat bagi pemahaman anak-anak tentang nilai-nilai budaya dan agamanya. Orang tua juga diharapkan mampu memberikan penjelasan secara sempurna makna di balik ritual tersebut, sehingga istilah anak mula keto dan gugon tuwon tidak lagi menjadi semacam budaya.

Ditegaskan, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, namun juga berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pendidikan tak hanya mengejar angka-angka, tetapi juga mengutamakan budi pekerti.

Keberhasilan anak-anak dalam menempuh pendidikan juga diukur dari segi moralnya. Mengisi libur hari raya ini, mereka (siswa) bisa diperkenalkan dengan tatanan kehidupan adat dan masyarakat Bali, mempererat ikatan kekerabatan dengan rekan-rekannya di banjar maupun nilai-nilai positif lokal genius lainnya

‘’Libur panjang itu tak semata-mata merayakan hari raya, tetapi ada pemaknaan dalam rangka peningkatan sradha dan bhakti. Anak-anak juga mesti melibatkan diri secara intensif di lingkungannya masing- masing dalam kegiatan agama dan budaya,’’ ujar Wiratama. tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.