Lahirnya Penantang Beri Alternatif Pilihan Politik, KPU Pede Target Pemilih 85 Persen Tercapai

KADEK Dwita Apriani. Foto:Ist
KADEK Dwita Apriani. Foto:Ist

DENPASAR – Kekhawatiran adanya paslon tunggal dalam Pilkada 2020 di Bali hampir pasti tidak terjadi. Selangkah lagi calon partai petahana, terutama yang dikuasai PDIP, mendapat lawan tanding. Lahirnya calon penantang itu, selain menghadirkan suasana kompetisi lebih menantang, juga memberi alternatif pilihan politik lebih kepada publik.

Akademisi Unud, Dr. Kadek Dwita Apriani, berkata para calon pemilih sangat diuntungkan dengan lahirnya calon-calon penantang tersebut. Terutama di daerah yang sebelumnya masuk kategori “sulit berubah” pilihan politiknya. “Meski kita belum melihat pasti siapa saja calonnya, tapi hal ini akan melahirkan dinamika lebih untuk demokrasi di daerah itu. Ini juga menunjukkan parpol sudah dapat memerankan fungsi untuk memberi pilihan kepada publik,” ujarnya, Senin (27/7/2020).

Bacaan Lainnya

Lebih jauh dikatakan, selama ini ada kekhawatiran parpol di Bali ingin bermain aman dengan membiarkan adanya paslon tunggal. Tudingan itu tak lepas dari lambatnya proses kandidasi selain dijalankan parpol yang berkuasa. Bahwa kemudian kandidat mulai bermunculan ke publik, sekurang-kurangnya di media massa, realitas itu menandakan parpol tetap berusaha menyaring figur di masyarakat.

Khusus untuk pemilih, Dwita bilang kini masyarakat memiliki opsi selain petahana. Pada saat yang sama, jelasnya, kehadiran penantang juga bentuk koreksi terhadap kepemimpinan yang ada selama ini. Jika petahana mampu menang, apalagi selisihnya besar, hal tersebut akan menjadi basis legitimasi politik di periode kedua. “Prinsipnya, kualitas demokrasi akan lebih baik ketika ada calon alternatif daripada hanya paslon tunggal,” tegas doktor politik alumnus Universitas Indonesia tersebut.

Di kesempatan terpisah, Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, mengapresiasi parpol yang mampu melahirkan calon kepala daerah. Selain melajunya kaderisasi, juga memperlihatkan berjalannya proses rekrutmen politik. Kaderisasi, kata dia, tidak sekadar di internal parpol, tapi bagaimana parpol melahirkan kader pemimpin masa depan.

“Kami sebagai penyelenggara senang sekali, dan berharap muncul calon-calon berkualitas untuk kompetisi. Dengan begitu animo masyarakat juga meningkat, sehingga berbondong-bondong ke TPS,” ungkapnya.

Konsekuensi dari tersedianya opsi politik, sambungnya, yakni masyarakat yang punya hak pilih seyogianya menggunakan hak mereka. Kondisi ini juga sebagai momentum membuktikan salah pendapat sejumlah pihak, yang pesimis dan melihat pilkada di tengah pandemi akan sepi pemilih. Dengan tersedia alternatif lain, dia kian percaya diri (pede) target partisipasi masyarakat 85 persen dapat terwujud di Bali.

Disinggung adanya parpol memilih bukan kader sebagai calon, Lidartawan mendaku tidak ada masalah. Meski bukan kader yang disodorkan, lugasnya, parpol sudah memberi ruang bagi tokoh yang dipandang mampu memimpin masyarakat. Dia pun memuji parpol mampu menurunkan egoisme organisasi, dengan mengambil tokoh masyarakat nonkader sebagai calon.

“Pemimpin daerah itu tak ada batasan dia parpol atau bukan, karena sepanjang dia mampu ya sah-sah saja. Kami senang makin banyak calon, karena ibarat masakan, makin banyak menu kan masyarakat yang paling diuntungkan,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses