Kurma Salak Jadi Favorit, Kembangkan Usaha, Pelaku Agrowisata Salak Terkendala Modal

AGROWISATA Salak Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, yang berkembang jadi agrobisnis pembuatan manisan salak yang kerap disebut kurma salak. Foto: ist

KARANGASEM – Salak dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk olahan, seperti kurma salak, teh dari salak, kopi salak, arak salak, wine salak, dan madu salak. Juga sup rebung salak dan masih banyak olahan salak lainnya. Salah satu produk olahan salak yang enak dan pasti disukai banyak kalangan adalah manisan salak.

Di Karangasem ada Agrowisata Salak Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem yang berkembang jadi agrobisnis pembuatan manisan salak yang kerap disebut kurma salak.

Bacaan Lainnya

I Nyoman Mastra, yang akrab disapa Kongking (54), merupakan pengelola Agrowisata Salak Desa Sibetan. Mastra menceritakan, sejarah nama kurma salak karena rasa dan tekstur olahan manisan salak satu ini mirip buah kurma.

Rasanya manis, agak masam sedikit, warna dan teksturnya pun mirip buah kurma. Produk ini sangat cocok dijadikan oleh-oleh yang wajib dibawa ketika wisatawan berkunjung ke Desa Sibetan. Terciptanya olahan salak yang variatif berawal dari produksi salak yang melimpah.

“Salak yang kami gunakan untuk membuat kurma salak ini merupakan salak kelas 3. Kenapa begitu, karena salak kelas 1 itu kami salurkan ke hotel-hotel dan luar negeri, salak kelas 2 kami pasarkan, dan kelas 3 ini kami siasati menjadi produksi yang lebih ekonomis,” kisahnya, Selasa (20/9/2022).

Baca juga :  Teco Sedih Liga 1 Tidak Jadi Digelar, Bali United Langsung Liburkan Latihan

Cara pembuatannya, kata dia, usai dikupas, salak dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian direbus selama empat jam sambil dicampur gula. Setelah matang, salak disaring untuk dipisahkan air rebusan dan buah salaknya.

Usai didinginkan beberapa menit, daging salak matang ini dimasukkan ke dalam oven selama 10 sampai 15 menit, agar tekstur salak mengering dan lebih tahan lama. “Setelah itu kurma salak siap dikemas,” jelasnya.

Produk kurma Salak, sambungnya, banyak yang melirik, salah satunya minimarket Indomaret ataupun Alfamart. Namun, untuk menjaga identitas asli dari salak itu sendiri, produk tidak dijual di tempat tersebut.

Jika para wisatawan ingin menikmati olahan salak, mereka disilakan datang ke Desa Sibetan sambil berwisata menikmati alam. Tentu sambil mencari berbagai olahan salak di Desa Sibetan, khususnya di Agro Wisata Desa Sibetan.

Sebagai salah satu pelaku pengelola agrowisata salak, Mastra berharap dapat mengembangkan olahan salak menjadi makin baik dan semakin maju.

“Kami ada cita-cita begitu, untuk mencari inovasi produk yang baru dan mengembangkan lagi yang sudah ada, tapi masih terkendala modal. Sebab, biaya penelitian lab sangat mahal sekali, ini yang jadi hambatan,” pungkasnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.