DENPASAR – Ketut Suwandi segera akan meninggalkan kursi ketua umum (ketum) KONI Bali, karena sudah dua periode memimpin induk organisasi olahraga di Pulau Dewata. Sesuai rencana suksesi KONI Bali yang dibalut dalam agenda Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) akan dilangsungkan Maret 2022, tinggal sekitar sebulan lagi.
Namun sejauh ini, belum ada satu pun figur yang berani terang-terangan muncul ke permukaan untuk mencalonkan diri ”berebut” kursi ketua umum KONI Bali. Meskipun ada, tapi hanya samar-samar yang dihembuskan salah satu media. Intinya, belum ada figur mendaftarkan diri secara resmi sebagai calon pengganti Ketut Suwandi.
Terlepas dari siapa pun nanti akan menduduki ”kursi panas” Ketua Umum KONI Bali, ada sejumlah kriteria yang disodorkan sejumlah pembina, pengurus dan pemerhati olahraga. Salah satunya Drs. I Wayan Suata, mantan pengurus Forki Badung yang kini lebih banyak berkecimpung di dunia sepakbola sebagai pemilik klub Bali All Stars (BAS).
Suata juga sering menggelar even-even sepakbola terutama usia duni sebagai pengembangan bakat talenta-talenta muda sepakbola Bali. Bahkan kini dia sedang merancang even nasional ”Piala Srikandi” khusus even sepakbola wanita, yang akan digeber Mei mendatang.
Lantas seperti apa kriteria Ketua KONI Bali mendatang di mata Wayan Suata? Pertama; harus berlaku adil, familier dihadapan para cabor anggotnya. Tidak ada pilih kasih, terutama dalam hal pemberian bantuan anggaran. ”Jangan sampai ada cabor yang merengek-rengek minta bantuan, hanya karena ketua umum KONI tidak kenal dengan pengurus cabor itu,” ungkap Suata, belum lama ini.
Kedua; dalam hal pengelonaan anggaran bantuan pemerintah (Pemprov Bali), Ketua KONI Bali mendatang harus transparan. Artinya, berapa bantuan Pemrov dan berapa yang dihabiskan harus dibuka ke publis, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Masyarakat Bali wajib tahu, karena dana yang dikelola KONI Bali adalah milik masyarakat.
Ketiga; Ketum KONI Bali mendatang tidak hanya sekadar bisa mengelola anggaran bantuan pemerintah. Tetapi juga harus bisa menggali dana atlernatif untuk menyokong pembinaan olahraga. Memang kedengarannya berat, apalagi di tengah pandemi saat ini. Namun, tidak salahnya dicoba, cari terobosan-terobosan strategis yang bisa menghasilkan uang.
Keempat; Ketum KONI Bali mendatang harus terus mendorong setiap cabor anggotanya menggelar even skala nasional bahkan internasional sekaligus mendukung sport tourism yang sudah lama digaungkan pemerintah. Bahkan bila perlu lebih mengarah sport toirism industry yang bisa mendatangkan uang. Sipa tahu dengan garapan ini, KONI bisa mendapatkan tambahan dana alternatif untuk tujuan pembinaan atlet.
Keenam; Ketum KONI Bali mendatang harus menutup ambisi jadi tuan rumah PON. Pengalaman dua kali kegagalan dalam bidding PON yang dikomandani Ketut Suwandi, patut dijadikan pelajaran karena ujung-ujungnya menguras banyak anggaran. Mungkin sampai saat ini, kita tidak tahu berapa dana yang dihabiskan dalam dua kali bidding tersebut.
”Jika kita simak kembali saat kalah bidding itu, Bali kurang apa dibandingkan Papua yang menjadi tuan rumah PON XX. Kemudian, Bali kurang apa dibandingkan Aceh dan Sumut yang akan jadi tuan rumah PON ke-21 (XXI) tahun 2024. Ini artinya ada kebijakan khusus yang diambil pemerintah pusat dalam hal memutuskan tuan rumah multi even olahraga empat tahunan di tanah air,” ungkap Suata.
Sebelumnya Ketua Umum KONI Badung Made Nariana, lebih dulu menyuarakan agar siapa pun nanti ketua umum KONI Bali tidak lagi ikut biding-biddingan untuk merebut tuan rumah PON. Karena keputusan akhir penentuan tuan rumah PON ada di tangan pemerintah pusat melalui Menpora.
Ditanya kepemimpinan Ketut Suwandi dalam dua periode sebagai Ketua Umum KONI Bali? Suata menilai, dari segi prestasi cukup oke karena bisa membawa posisi Bali tembus lima besar pada PON XX di Papua.
Tetapi di sisi lain, lanjut Suata, masih banyak yang kurang. ”Memimpin KONI Bali bukan hanya ukuran prestasi semata, tetapi juga dilihat beberapa aspek seperti transparansi mengelola keuangan,” pungkas Suata. yes























