Kesal Dituduh Serobot Lahan, Motif Ponakan Bunuh Paman

POLRES Bangli merilis kasus pembunuhan di Desa Belandingan, Kintamani, Bangli, Jumat (6/1/2023). Polisi menetapkan dua tersangka. Foto: ist
POLRES Bangli merilis kasus pembunuhan di Desa Belandingan, Kintamani, Bangli, Jumat (6/1/2023). Polisi menetapkan dua tersangka. Foto: ist

BANGLI – Unit Reserse Kriminal Polsek Kintamani bersama Tim Opsnal Polres Bangli menangkap pelaku pembunuhan di Desa Belandingan, Kintamani, Bangli, Rabu (4/1/2023). Dari hasil penyidikan terkuak, pelaku gelap mata menghabisi korban yang juga paman tirinya itu gegara kesal dituduh menyerobot lahan.

Kapolsek Kintamani, Kompol Ruli Agus Susanto; didampingi Kasatreskrim Polres Bangli, AKP Androyuan Elim; Kanitreskrim Polsek Kintamani, Iptu I Gede Sudhana Putra; dan Kasihumas Polres Bangli, Iptu I Wayan Sarta, mengatakan pelaku ditangkap di Desa Belandingan. “Pelaku kami amankan pada hari Rabu (4/1/2023) sore di Desa Belandingan dengan barang bukti sepasang sepatu boot dan gagang sabit,” ucap Kapolsek, Jumat (6/1/2023).

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut AKP Androyuan Elim menjelaskan, motif pembunuhan ini karena salah paham terkait batas wilayah lahan perkebunan. I Gede Darmawan (19) dan I Made Ariawan (18) mengaku membacok korban, Nyoman Rai (36), karena kesal dituduh menanam tanaman alpukat di areal tanah korban. Korban juga sempat memukul dan mencekik, sehingga menyebabkan Darmawan emosi dan membalas dengan menganiaya korban.

Mendengar ada ribut-ribut, Ariawan yang adik dari Darmawan mendatangi lokasi dan melihat kakaknya sedang bergumul dengan korban. Ariawan membantu menganiaya korban dengan memegang kaki dan mendudukinya atas perintah Darmawan hingga korban tidak bergerak. Ketika korban tidak berdaya, dia dipukul dengan sepatu boot dan ditebas serta dibacok dengan sabit. “Korban kemudian dibuang ke jurang,” terangnya.

Baca juga :  Kabar Baik, Denpasar Catat Angka Terendah Kasus Positif Covid-19

Selesai kejadian, sambungnya, anak korban berumur 2,5 tahun yang tak jauh dari lokasi kejadian ditemukan orangtua pelaku. Sang bocah dibawa ke rumahnya yang diserahkan kepada istri korban, Ni Nengah Widi. “Melihat anak korban yang pulang tidak bersama ayahnya, istri korban panik dan mencoba menelpon korban namun tidak diangkat. Istri korban memberitahukan peristiwa tersebut kepada keluarga dan kemudian dilakukan pencarian,” paparnya.

Setelah dilakukan pencarian, ditemukan banyak bercak darah  di jalan setapak Pondokan Bone Desa Belandingan. Ketika ditelusuri hingga ke tepi jurang, korban ditemukan berada di tebing jurang dengan kondisi meninggal dunia. Ada luka robek di bagian kepala belakang dan luka robek di kedua pergelangan tangan.

Untuk kedua tersangka, dia menyebut dijerat pasal 338 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun penjara, jo pasal 170 KUHP ayat (3) dengan ancaman 12 tahun penjara, jo pasal 351 ayat 3 Jo, jo pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancamanan hukuman selama-lamanya tujuh tahun penjara. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.