Kenormalan Baru, Taman Soekasada Ujung Kembali Bangkit

Foto: TAMAN SOEKASADA UJUNG PENGELOLA Taman Soekasada Ujung, Ida Mangku Alit, menunjukkan sertifkat tatanan kehidupan baru daerah tujuan wisata. Foto: nad
Foto: TAMAN SOEKASADA UJUNG PENGELOLA Taman Soekasada Ujung, Ida Mangku Alit, menunjukkan sertifkat tatanan kehidupan baru daerah tujuan wisata. Foto: nad

KARANGASEM – Setelah diterapkannya tatanan kehidupan era baru pada 9 Juli lalu, pengelola tempat wisata di Karangasem bisa bernapas lega. Penutupan objek wisata selama berbulan-bulan akibat pandemi Covid-19 mengakibatkan pengelola merugi.

Salah satu tempat wisata terkenal di Karangasem, yakni Taman Soekasada Ujung, Desa Ujung. Menurut Ida Mangku Alit sebagai pengelola, Selasa (14/7), pihaknya mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah karena adanya penutupan. Bahkan pengelola harus tetap membayar biaya karyawan dan perawatan objek wisata itu di tengah tidak adanya pengunjung. Kini dia merasa sangat bersyukur karena sedikit demi sedikit bisa bangkit.

Bacaan Lainnya

“Mulai diterapkannya kenormalan baru ini saya bersyukur. Walaupun sedikit, untuk saat ini kami hanya menerima tamu lokal,” tuturnya.

Kunjungan ke Taman Soekasada Ujung, jelasnya, mulai dibuka kembali tanggal 11 Juli lalu. Namun, sementara ini jumlah pengunjung masih belum banyak. Dulu rata-rata dalam sehari pengelola bisa mendapat pemasukan Rp10 juta, tapi sekarang paling-paling hanya dapat Rp500 ribu. Meski begitu, dia tetap mensyukuri.

Pemberlakuan kenormalan baru juga ada standardisasi yang harus dipenuhi untuk dibukanya objek wisata tersebut. Sesuai protokol kesehatan, yakni menyediakan ruang isolasi, wastafel, penyanitasi tangan, pengecekan suhu tubuh pengunjung dan penandaan garis antrean untuk penjarakan fisik, serta standardisasi pegawai. Hal ini didaku sudah dapat dipenuhi, sehingga Taman Soekasada Ujung sudah mendapatkan sertifikat.

Mengenai kualitas sumber daya manusia, Alit mengakui masih sulit untuk mendidik sesuai standar pariwisata. Sebab, para karyawan ini memang diambil dari penduduk lokal yang tinggal tak jauh dari tempat wisata ini. Rekrutmen karyawan lokal itu sengaja untuk membantu menyejahterakan penduduk sekitar. “Meski mereka dalam hal pendidikan kurang di bidang pariwisata, kami didik di sini sesuai standar, terutama penampilan atau tata cara berpakaian dan kebersihannya,” katanya menandaskan. 017

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses