POSMERDEKA.COM, BULELENG – Sejumlah petani anggur di Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, Buleleng mengalami kesulitan air akibat musim kemarau panjang. Dengan kondisi itu, hasil panen para petani pun anjlok.
Salah satu petani anggur, Luh Merta (65) asal Banjar Dinas Kuwum, Desa Ringdikit menuturkan, lahan seluas 20 are miliknya sejak tiga bulan terakhir mengalami krisis air. Otomatis pertumbuhan buah jadi tidak normal. “Saya sejak 10 tahun menanam anggur hitam. Kami dan beberapa petani kesulitan air juga, akibatnya buah jadi tidak normal, mengkerut dan mengecil,” ungkapnya, belum lama ini
Dia menyebut kondisi tersebut membuat harga anggur di pasaran mengalami penurunan, karena kualitas buah kurang bagus. Padahal petani juga harus membeli pupuk yang harganya tergolong mahal. “Kalau hari raya menyentuh Rp12 ribu per kilogram, sedangkan kalau hari biasa hanya Rp5 ribu sampai Rp9 ribu per kilo,” keluhnya.
Perbekel Ringdikit, Made Sumadi, menyebut, kondisi krisis air disebabkan banyak terjadi perambahan hutan dan alih fungsi lahan. Ditambah sekarang musim kemarau berkepanjangan. Pihak desa memilih menggilir distribusi air untuk para petani, agar kebun mereka tetap mendapat pasokan air meski dengan jumlah terbatas.
“Air memang susah di wilayah kami saat musim kemarau. Di samping itu, ada perabasan hutan di atas dan alih fungsi lahan. Padahal anggur butuh air banyak,” jelasnya.
Terkait masalah harga anggur yang anjlok, dia bersama kelompok petani anggur melakukan kerja sama dengan sejumlah pabrik wine (anggur). Pabrik ini akan mengambil seluruh hasil panen milik petani yang ada di Ringdikit. “Mudah-mudahan dengan kerja sama ini, para petani anggur bisa bertahan,” harapnya. edy






















