POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Densus 88 Mabes Polri mengungkap keterlibatan dua anak Bali yang berusia 13 dan 14 tahun terpapar paham radikalisme. Kedua anak tersebut merupakan bagian dari 110 anak dari 25 Provinsi yang berhasil diungkap Densus 88 bersama Badan Nasional Penanggulan Terorisme (BNPT), pada 18 November 2025. Ratusan anak tersebut terpapar melalui grup Whatsapp yang dikelola 5 orang dewasa dan kini sudah jadi tersangka.
‘’Ada beberapa siswa di Bali terpapar paham radikalisme. Gim online sebagai sarana baru perekrutan online,’’ kata Katim Unit Idensos dan Pencegahan Densus 88 AT Satgaswil Bali, Ipda Hadi Nata Kusuma, saat sosialisasi mengenai strategi pencegahan ekstrimisme dan terorisme di lingkungan SMP di rapat rutin MKKS SMP Kota Denpasar, Kamis (8/1/2026). Rapat diikuti kepala sekolah dan wakasek kurikulum SMP se-Kota Denpasar.
Dalam sosialisasi tersebut, Ipda Hadi Nata Kusuma, selaku narasumber, mengutarakan, terorisme adalah sebuah proses. Berakar dari intoleransi, radikalisme dan buahnya terorisme. Ia mengungkapkan jaringan teror di Indonesia. Kelompok radikal/terror di antaranya JI, JAT, JAD, MIT, dan NII. Organisasi terlarang yaitu PKI, Gafatar, HTI, dan FPI.
Proses radikalisasi menurut Hadi Nata dimulai dari propaganda, identifikasi diri, indoktrinasi dan aksi terorisme. ‘’Peran orang tua sangat diperlukan dalam upaya pencegahan agar anak-anak tidak terpapar paham radikalisme dengan memberikan perhatian kepada anak,’’ ujarnya.
Sementara itu, Ketua MKKS SMP Kota Denpasar, Ni Nengah Sujani, mengapresiasi menyambut baik kehadiran narasumber dari Densus 88 Anti Teror Polri yang memberikan sosialisasi mengenai strategi pencegahan ekstrimisme dan terorisme di lingkungan SMP. ‘’Ini adalah isu yang sangat relevan dan penting bagi dunia pendidikan saat ini,’’ kata Sujani.
Menurut Sujani, sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang strategis dalam membentuk karakter, nilai kebangsaan, toleransi, dan cinta Tanah Air. Oleh karena itu, kepala sekolah memiliki peran kunci sebagai pemimpin pembelajaran sekaligus penjaga ekosistem sekolah yang aman, inklusif, dan moderat.
Melalui sosialisasi ini, ia berharap para kepala sekolah mampu mendeteksi secara dini potensi paham radikal dan intoleran di lingkungan sekolah, menguatkan pendidikan karakter, moderasi beragama, dan wawasan kebangsaan, serta membangun sinergi dengan guru, orang tua, dan aparat terkait dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif.
‘’Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata, baik dalam memperkuat peran sekolah sebagai benteng pencegahan ekstrimisme dan terorisme demi kemajuan pendidikan dan keamanan generasi muda di Kota Denpasar,’’ pungkasnya. tra
























