POSMERDEKA.COM, BANGLI – Serbuan lalat di kawasan Kintamani, Bangli, yang terjadi sejak beberapa pekan terakhir, mengganggu kenyamanan masyarakat dan wisatawan. Saat fenomena musiman tiap tahun ini terjadi, jutaan lalat bertebaran sampai di kawasan objek wisata di Kintamani.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, Kamis (8/1/2026) berujar, bersama instansi terkait telah berupaya menekan penyebaran lalat. Salah satunya dengan menyarankan para petani di Kintamani menggunakan pupuk organik yang difermentasi. Penyuluhan dan sosialisasi terus digencarkan. “Upaya ini dilakukan sebagai langkah preventif guna mengurangi dampak dari penggunaan pupuk berbahan kotoran ternak ayam, yang tidak diolah dengan baik,” ungkap Sarma.
Kata dia, sejatinya di masing-masing desa ada satu petugas penyuluh yang aktif mengedukasi masyarakat dan petani. Penyuluhan menyasar sejumlah kelompok tani di wilayah Kintamani. Beberapa lokasi yang dilakukan sosialisasi di antaranya kelompok tani di Pangsut Sari, Dusun Cingang, Desa Kayubihi, Balai Banjar Apuan Kaja, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kintamani Barat dan BPP Kintamani Timur. “Saya berharap melalui sosialisasi berkelanjutan ini, kesadaran petani dalam mengelola pupuk organik dapat meningkat, sehingga permasalahan lalat di Kintamani secara bertahap dapat diminimalkan,” harapnya.
Dalam penyuluhan tersebut, sambungnya, difokuskan pada pemahaman pentingnya proses fermentasi dalam pemanfaatan pupuk organik. Sebab, ucap Sarma, salah satu faktor utama penyebab merebaknya lalat adalah penggunaan pupuk dari kotoran ternak ayam, yang langsung diaplikasikan tanpa melalui proses pengolahan yang benar. Dia mendaku masih banyak kelompok tani lain yang akan disasar. “Ini semata-mata untuk menekan penyebaran lalat, yang salah satunya disebabkan penggunaan pupuk kotoran ternak tanpa proses yang baik dan benar,” pungkasnya.
Sebelumnya, serbuan jutaan lalat di kawasan Kintamani sempat dikeluhkan pelaku pariwisata. Kondisi tersebut telah menyebabkan kenyamanan wisatawan terganggu. Tak jarang, karena banyaknya serbuan lalat tersebut, mengakibatkan makanan yang ditawarkan para pedagang dinilai kurang higienis. Untuk itu, perlu peran pemerintah dengan melibatkan masyarakat untuk bersama-sama berupaya menekan penyebaran lalat tersebut. gia
























