Kekerasan Perempuan dan Anak, Dompu Peringkat Teratas di NTB

KETUA TP PKK Provinsi NTB Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah (dua kanan) saat memandu Kajian Bareng (Kabar) Bunda Niken secara hybrid, di Aula Kantor Bupati Dompu, Jumat (27/5/2022). Foto: ist
KETUA TP PKK Provinsi NTB Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah (dua kanan) saat memandu Kajian Bareng (Kabar) Bunda Niken secara hybrid, di Aula Kantor Bupati Dompu, Jumat (27/5/2022). Foto: ist

MATARAM – Sebanyak 959 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selama tahun 2021. Angka ini meningkat tajam jika dibandingkan dengan tahun 2019 dan tahun 2020. Ketua TP PKK NTB, Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, mengatakan, angka kekerasan di Kabupaten Dompu pada tahun 2020 lalu masuk daerah yang menempati posisi teratas dibandingkan daerah lain di NTB.

“Dengan 26 kasus kekerasan perempuan, itu artinya di Dompu  lebih banyak dibanding daerah lain,” kata Niken saat memandu acara Kajian Bareng (Kabar) Bunda Niken secara melalui di Kabupaten Dompu, Jumat (27/5/2022).

Read More

Pada tahun 2019, sebutnya, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTB mencapai 545 kasus. Kemudian meningkat drastis pada tahun 2020 dengan jumlah 845 kasus. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB mencatat setidaknya 392 kasus kekerasan terjadi pada perempuan sejak Januari hingga 16 Desember 2021. Sementara kasus kekerasan pada anak sebanyak 567 kasus.

Menurut Niken, jika merujuk data, angka kasus di Dompu pada tahun 2021 mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2020, mencapai 22 kasus. Namun, secara keseluruhan di NTB, pada tahun 2021 angkanya mencapai 959 kasus. Angka ini meningkat tajam jika dibandingkan dengan tahun 2019 dan tahun 2020.

Untuk itu, sambungnya, harus sering dilakukan sosialisasi dan edukasi yang masif kepada kaum perempuan dan masyarakat, agar dapat membangun kesadaran secara kolektif terkait pemahaman bentuk dan jenis kekerasan itu. Dia mengingatkan kekerasan tidak hanya bentuk fisik, tapi secara psikis, seksual dan ekonomi.

“Termasuk eksploitasi dan juga kekerasan lainnya. Maka gerakan pemahaman dan sosialisasi harus lebih dimasifkan,” pesannya.

Niken memaparkan, masyarakat harus lebih memahami hak-hak perempuan. Harapannya, angka kekerasan terhadap perempuan bisa tidak ada lagi nanti. Selain itu, lanjut dia, keluarga adalah tempat asuh yang baik untuk mendidik dan saling mencintai bagi orangtua, untuk mengajarkan anak tentang menghargai melindungi, serta menghormati hak perempuan dan anak. “Betapa pentingnya keluarga dan peran orangtua untuk hal ini,” ulasnya.

Ketua PKK Kabupaten Dompu, Lilis Suryani Kader Jaelani, menambahkan, dia bersama gabungan organisasi wanita selalu memberi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan remaja. Lebih utama adalah saling memahami dan percaya dalam keluarga. Begitu pun dalam lingkungan masyarakat agar perempuan juga dihormati haknya,” kata Lilis.

Menurut dia, perempuan tidak pernah mengharap apa pun bentuk kekerasan. Namun, kejadian seperti ini masih saja terjadi di sekeliling lingkungan tempat tinggalnya. “Baik terjadi akibat adanya laporan atau tanpa diketahui oleh publik,” lugasnya.

Senada dengan Lilis, Kepala DP3AP2KB Dompu, Shelly Andayani, berujar, untuk menekan angka kekerasan pada perempuan dan anak butuh kerjasama dan sinergi semua pihak. Karena berdasarkan data angka kasus kekerasan di Dompu masih tinggi, maka kepedulian semua pihak menjadi kunci untuk penuntasan.

“Seluruh komponen masyarakat, OPD, organisasi wanita, TP PKK, aparat keamanan untuk sama-sama memberi edukasi dan bersama secara masif menyosialisasikan hak perempuan,” serunya.

Psikolog Klinis UPTD PPA Dompu, Najwah Naeli, berkata dari rahim perempuanlah terlahir generasi penerus. Hanya, kekerasan juga disebabkan banyak faktor. Misalnya ada perbedaan perempuan dan pria, pendidikan, gangguan mental dan sebagainya.

“Faktor ini menjadi salah satu sebab perempuan menjadi korban kekerasan. Termasuk juga akibat pengasuhan yang otoriter dan keras dalam keluarga, dan biasanya sering dilakukan orangtua laki-laki atau bapak,” tandasnya. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.