Karangasem “Koleksi” Ratusan Penderita Gangguan Jiwa, Pemerintah Diminta Perhatikan Pengobatan

  • Whatsapp
SALAH satu penderita ODGJ di Karangasem mendapat perawatan medis dari relawan. ODGJ di Kabupaten Karangasem meningkat cukup signifikan selama masa pandemi Covid-19. foto: nad

KARANGASEM – Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Karangasem meningkat cukup signifikan selama masa pandemi Covid-19. Selain itu kondisi, ratusan ODGJ itu juga menyedihkan, karena kurang mendapat perawatan medis selama pandemi.

Hal tersebut disampaikan dr. Tjokorda Bagus Jaya Lesmana, Sekretaris Suryani Institute for Mental Health (SIMH), saat mengunjungi sejumlah penderita gangguan jiwa di Karangasem, Jumat (8/10/2021).

Bacaan Lainnya

Dia berkata, selama pandemi, para penderita gangguan jiwa atau di Bali kurang mendapatkan penanganan medis atau pengobatan. Hal itu, menurutnya, disebabkan selama pandemi petugas medis sangat jarang, bahkan nyaris tidak pernah, mengunjungi ODGJ untuk memberi obat atau penanganan medis. Berdasarkan data yang dimiliki SIMH, jumlah penderita gangguan jiwa di Karangasem sebanyak 895 orang yang terdata pada tahun 2008. Sementara total penderita gangguan jiwa di Bali berjumlah 9.000 orang.

Untuk di Karangasem, jelasnya, yang mendapat penanganan dari puskesmas setempat maupun dari SIMH baru 574 orang. Jumlah tersebut tersebar di Kecamatan Manggis, Abang, Rendang dan Sidemen. “Ini artinya masih ada sebanyak 300 orang lebih ODGJ yang sangat membutuhkan bantuan, dan penanganan serius dari pemerintah, khususnya Pemkab Karangasem,” terangnya.

Baca juga :  Cegah Klaster Covid-19, Kelurahan Sumerta Gencarkan Monitoring di Pasar Ketapian

Selain bantuan tempat tinggal layak, makanan, pakaian, sambungnya, yang paling dibutuhkan ODGJ adalah pengobatan atau pemberian obat yang rutin. Dia mengakui pengobatan ODGJ butuh biaya yang tidak sedikit. “Seharusnya pemerintah tidak mengesampingkan ini, karena penderita gangguan jiwa harus mendapat penanganan yang serius. Sebab, keluarga yang mengurus ODGJ juga berpotensi mengalami gangguan kejiwaan,” urainya.

Lesmana bersama relawan berkunjung sekaligus memberi pengobatan serta sumbangan untuk sejumlah ODGJ di Karangasem. Salah satunya atlet lari, I Ketut Kanten (36), asal Banjar Tengah, Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem. Ketut Kanten merupakan satu potret menyedihkan dari 895 ODGJ di Karangasem. Hanya, Kanten masih cukup beruntung, karena tinggal bersama kedua orangtua di sebuah rumah dua kamar yang merupakan bantuan bedah rumah dari pemerintah.

Kanten menjadi pria dalam pasungan sejak menderita ODGJ saat berusia 18 tahun. Dulunya Kanten merupakan pria rajin, kendati hanya pernah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar. Kanten dikenal rajin bekerja menyabit rumput hingga mencarikan kayu bakar untuk tetangganya guna membantu orangtua.

“Dulu dia (Kanten) pernah bekerja di pabrik tepung di Denpasar. Sepulang dari Denpasar itulah dia sering ngamuk sebelum kemudian menderita gangguan jiwa, dan akhirnya dipasung oleh keluarganya,” ungkap Ketut Mudani, tetangga yang sering mengurus Kanten.

Orangtua Kanten, I Ketut Gunik dan Ni Nyoman Suma, sudah sangat renta untuk mengurus Kanten yang kakinya dirantai di tiang beton bangunan bedah rumah yang ditempati. Sementara saudaranya tinggalnya cukup jauh. “Kalau bantuan sih sering yang datang mengasih bantuan. Cuma ya gitu, kadang dikasih makanan tidak mau dimakan. Kalau matanya sudah melotot, sudah nggak ada yang berani mendekat. Itu pasti sedang kumat dan pasti ngamuk,” imbuh Mudani.

Baca juga :  Bawaslu Sebut Tahapan Coklit Nihil Pelanggaran

Menurut Lesmana, sejak pandemi, petugas medis puskesmas sangat jarang berkunjung untuk memberi obat kepada Kanten, dan itulah yang mengakibatkan kondisinya sedikit memprihatinkan. “Kami sudah suntikkan obat, dan ada luka sedikit di kakinya juga sudah diobati,” kata Lesmana.

Tidak jauh dari rumah Ketut Kanten, masih di Desa Datah, kondisi tidak kalah menyedihkan dialami I Ketut Yasa (35), warga Banjar Lebah. Sepupunya, I Ketut Merta, kepada media menuturkan, sebelum menderita gangguan jiwa, Ketut Yasa sempat mengenyam pendidikan SD, dan sempat merantau ke Denpasar dan Gianyar untuk bekerja.

Sayang, masa remajanya harus berakhir dalam rantai pasungan, karena sepulang dari merantau, Ketut Yasa sering mengamuk. Karena dikhawatirkan bisa melukai dan membahayakan orang lain, keluarga akhirnya memilih memasungnya. Yasa dipasung selama bertahun-tahun di dalam gubuk bekas dapur yang nyaris roboh.

Kondisi organ tubuh Yasa juga mulai tidak normal, tangan dan kakinya bergetar dan sulit dihentikan. Namun, kadang Yasa masih bisa berkomunikasi dengan orang yang datang menjenguk. “Dulu sering lepas dan lari sampai ke Karangasem Kota. Terus dibawa lagi ke sini dan dipasung oleh keluarganya,” lontar Ketut Merta.

Merta mengisahkan, sebenarnya Yasa berulang kali dibawa berobat ke RSJ Bangli, tapi tidak ada perubahan apa-apa. Hanya, imbuh Lesmana, kondisi Yasa sebenarnya cukup baik. Yasa dinilai bisa menyadari realita lingkungan dan dirinya. Meski begitu, keluarga memilih tetap memasung dengan pertimbangan takut Yasa lari, ngamuk dan membahayakan orang lain.

Baca juga :  Pelatihan SRA Sasar Ratusan Guru PAUD dan SD/MI

Untuk itu, dia kembali berharap Pemkab Karangasem bisa menugaskan tim medis di masing-masing puskesmas guna memberi pengobatan secara rutin. Selain itu, petugas medis yang menangani juga harus melakukan evaluasi atas penanganan yang dilakukan. “Obat tidak untuk diberikan seumur hidup, tapi perlu tetap dievaluasi pemberiannya,” pungkasnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.