ISI Denpasar Tambah Dua Doktor Baru

  • Whatsapp
SUASANA ujian terbuka dosen I Ketut Garwa di kampus ISI Denpasar, Selasa (16/11/2021).

DENPASAR – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kembali meluluskan mahasiswa doktor penciptaan seni yakni I Wayan Sujana dan I Ketut Garwa yang keduanya merupakan dosen di kampus setempat.

“Kedua dosen ISI Denpasar ini secara berturut-turut diuji oleh masing-masing 11 penguji, termasuk dari unsur akademisi luar ISI Denpasar,” kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr Wayan Kun Adnyana di Denpasar, Selasa (16/11/2021).

Bacaan Lainnya

Program Studi Seni Program Doktor Pascasarjana ISI Denpasar meluluskan kedua mahasiswa doktor tersebut pada ujian terbuka yang berlangsung pada Senin (15/11/2021) dan Selasa (16/11/2021).

I Wayan Sujana yang akrab dipanggil Suklu menghasilkan temuan praktik seni MAL (Mobile Art Laboratory): Ruang Alternatif Olah Kreatif Seni Rupa Pertunjukan Berbasis Masyarakat, sedangkan Ketut Garwa tentang transformasi tradisi Ngrebeg Kuningan di Kota Bangli dalam komposisi musik kolosal.

Pada ujian terbuka, Senin (15/11) Ketut Garwa diuji oleh Prof Dr I Nengah Duija, Prof Dr I Komang Sudirga, Dr I Nyoman Sukerna, Dr I Gusti Ngurah Seramasara, Dr I Kadek Suartaya, Dr I Ketut Suteja, dan Dr Ni Made Arshiniwati.

Penguji dari unsur promotor Prof Dr I Wayan Dibia, Ko-Promotor 1 Prof Dr I Wayan Rai S, Ko-Promotor 2 Dr I Gede Yudarta, dan Ketua Penguji Prof Dr Wayan Kun Adnyana, Rektor selaku Pemimpin Unit Penyelenggara Program Studi Seni Program Doktor ISI Denpasar.

Baca juga :  Kejuaraan Taekwondo Walikota Cup XI/2020 Digelar 14-15 Maret

Rektor ISI Denpasar Wayan Kun Adnyana juga selaku promotor memimpin ujian terbuka, Selasa (16/11/2021) untuk Sujana Suklu, dengan penguji Prof Dr Setiawan Sabana, Dr Jean Couteau, Prof Dr I Nyoman Suarka, Prof Dr I Nyoman Sedana, Dr I Nengah Wirakusuma, Dr I Ketut Muka, Dr I Ketut Suteja, serta Ko-Promotor 1 Prof Dr.I Wayan Dibia dan Ko-Promotor 2 Dr I Wayan Suardana.

Dalam ujian terbuka tersebut, Ketut Garwa dengan meyakinkan memberi tanggapan atas seluruh pertanyaan yang disampaikan penguji.

“Ngrebeg Kuningan di Kota Bangli dalam transformasi menjadi komposisi musik kolosal, membutuhkan observasi, bangunan imajinasi, kemudian praktik penciptaan yang mengelola talenta penabuh lokal Bangli, hingga lahir komposisi yang berangkat dari konsep Pangurip Panca Dewata,” ujar Garwa.

Menurut dia yang juga Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar itu, karya ini dapat menjadi model transformasi tradisi ritus ke kreativitas seni baru.

Sementara itu, Prof Komang Sudirga selaku penguji mengatakan karya Komposisi Musik Kolosal Ngrebeg Kuningan memiliki makna transformasi nilai-nilai sakral religius terkait dengan ritus Ngrebeg di Catus Pata sebagai poros dunia (sumbu kosmik), menyatunya hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

“Konsep kekaryaan berbasis Pangurip Panca Dewata dengan hitungan ganjil tidak lazim diterapkan dalam komposisi karawitan Bali, namun melalui sentuhan kreatif, nuansa musikalitasnya mengalir harmonis. Kreativitas inovatif ini dapat dijadikan sumber inspirasi bagi komposer muda di masa depan,” ujar Sudirga, yang dikutip posmerdeka.com dari antaranews.

Sementara itu, Sujana Suklu yang tercatat telah 10 kali mempraktikkan konsep MAL di berbagai lokasi. Sebelum pada pameran akhir di Komaneka Gallery, Ubud dengan tangkas menjelaskan temuan praktik seni berbasis interaksi, dialog, dan kolaborasi termasuk intermingle dalam MAL memungkinkan masyarakat umum untuk melakukan praktik seni bersama. Hal itu, sekaligus mencairkan eksklusivitas praktik seni semata ruang soliter dari seorang seniman.

Baca juga :  Dapur Umum Peduli Sesama INTI Bali Terus Gencarkan Penyediaan Pangan

Salah satu penguji Sujana Suklu, Dr Jean Couteau menandaskan bahwa pada karya seni lukis Suklu sangat mempribadi, namun pada gilirannya secara sadar justru dia membangun ruang kolaborasi komunal penuh kemungkinan.

“Seni lukis mempribadi tidak menjadi ganjalan untuk membangun ruang kreatif kolaboratif lintas seni, bahkan dengan masyarakat luas. Ini merupakan jalan sosiologis bagi seni kontemporer,” kata antropolog kebangsaan Prancis yang telah puluhan tahun bermukim di Bali itu. yes

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.