POSMERDEKA.COM, BANGLI – Peristiwa kebakaran hutan kembali melanda wilayah Kabupaten Bangli. Kali ini, kawasan hutan di kawasan Subak Bayungan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, hangus terbakar pada Minggu (27/9/2026) malam. Api yang sempat berkobar selama beberapa jam baru berhasil dipadamkan dini hari setelah petugas gabungan turun ke lokasi.
Perbekel Desa Sukawana, I Wayan Mister (45), yang berada di pinggir jalan menuju Subak Bayungan menyebutkan, peristiwa tersebut diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 22.00 Wita. Kebakaran melahap kawasan hutan yang didominasi semak belukar serta dedaunan kering. Dugaan awal, kobaran api dipicu kelalaian warga atau pengguna jalan yang membuang puntung rokok sembarangan di tepi jalan.
Kapolsek Kintamani, Kompol Made Dwi Puja Rimbawa, membenarkan adanya musibah kebakaran tersebut saat dikonfirmasi pada Senin (28/9/2026). Dia menjelaskan, titik api pertama kali terlihat muncul di pinggir jalan kawasan hutan menuju Subak Bayungan.
“Masyarakat sekitar yang mengetahui kejadian tersebut sempat berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya, sekaligus melaporkan kejadian itu kepada petugas kepolisian dan Damkar Kabupaten Bangli,” terangnya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, paparnya, sebanyak dua unit mobil Damkar Kabupaten Bangli tiba di lokasi sekitar pukul 00.10 Wita. Petugas pemadam langsung bergabung bersama warga setempat untuk menjinakkan kobaran api, yang terbagi di tiga titik penyebaran. Sekitar pukul 01.30 Wita, api berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh petugas gabungan dan masyarakat, sehingga kebakaran tidak sampai meluas ke kawasan pemukiman atau area sekitarnya. Akibat kejadian ini, luas lahan hutan yang terbakar diperkirakan mencapai kurang lebih 25 are.
Meski dugaan awal mengarah pada buangan puntung rokok, Kapolsek menegaskan penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan pihak Polsek Kintamani. Dia menguraikan, wilayah Kecamatan Kintamani merupakan daerah yang paling rawan, dan hampir setiap tahun langganan mengalami kebakaran lahan, terutama saat musim kemarau. Karena itu, warga diimbau senantiasa berhati-hati saat melakukan aktivitas yang menggunakan media api.
Masyarakat yang usai melakukan persembahyang diimbau segera mencabut dupa yang masih menyala. Demikian pula bagi warga yang memasak menggunakan tungku kayu tradisional, diminta tidak meninggalkan dapur dalam kondisi bara api masih membara guna mencegah potensi kebakaran meluas. gia
























