Hari Valentine Diyakini Dongkrak Partisipasi Pemilih, KPU Silakan Kreativitas di TPS

SUASANA penghitungan suara saat Pemilu 2019 di salah satu TPS di Kerobokan, Kuta Utara, Badung. Penetapan tanggal 14 Februari yang juga disebut hari kasih sayang diyakini dapat meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 mendatang. Foto: ist
SUASANA penghitungan suara saat Pemilu 2019 di salah satu TPS di Kerobokan, Kuta Utara, Badung. Penetapan tanggal 14 Februari yang juga disebut hari kasih sayang diyakini dapat meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 mendatang. Foto: ist

DENPASAR – Pemilihan tanggal 14 Februari, yang dikenal sebagai Hari Valentine, sebagai waktu pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2024 diyakini berimplikasi terhadap kenaikan tingkat partisipasi pemilih. Suasana kasih sayang sesuai spirit Hari Valentine dinilai dapat memantik minat orang menyalurkan hak politiknya. Optimisme itu dilontarkan Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, Selasa (25/1/2022).

Menurut Lidartawan, KPU akan mencoba mode pendekatan yang berbeda kepada masyarakat untuk menggairahkan keinginan menggunakan hak politik mereka. Misalnya dengan menggaungkan pesan kasih sayang dalam arti luas, antara lain sayang kepada bangsa dengan berpartisipasi dalam membuat perubahan. Kondisi itu berpeluang terjadi dengan adanya Pemilu yang jujur dan adil.

Bacaan Lainnya

“Kita gemakan kepada masyarakat, termasuk lewat media massa, untuk menghormati apapun hasil Pemilu itu selama prosesnya benar. Nah, ini kan bagian dari menghadirkan kasih sayang kepada bangsa kita,” ucap Lidartawan.

Disinggung optimismenya agak berlebihan terkait tanggal 14 Februari dapat berkorelasi terhadap peningkatan partisipasi pemilih, Lidartawan tertawa. Dia memberi ilustrasi tentang perayaan malam tahun baru yang tetap memiliki nilai spesial sampai kini, meski terjadi setiap tahun. Malam tahun baru juga dapat menggiring publik untuk melakukan sesuatu yang baik-baik. Hal itu karena yang dipandang ada “nilai lebih” adalah momentumnya.

“Optimis, optimis sekali bahwa pemungutan suara kita akan diyakini dalam konteks kasih sayang. Kita lihat saja, berapa banyak orang menikah dengan mengambil jadwal Hari Valentine? Itu artinya Hari Valentine ada keistimewaan tersendiri,” urai mantan Ketua KPU Bangli tersebut.

Didesak bahwa Hari Valentine hanya bermakna bagi kelompok umur tertentu saja, lagi-lagi Lidartawan menepis. Dia mengklaim generasinya dengan usia di atas 50 tahun masih menikmati suasana hari kasih sayang bersama keluarga. Tinggal sekarang bagaimana KPU mengemas nuansa itu saat sosialisasi ke masyarakat.

Keistimewaan Pemilu 2024, ulasnya, karena ada pesta demokrasi dan hari kasih sayang. Nanti bisa saja penyelenggara badan adhoc membuat TPS dengan pernak-pernik rasa Hari Valentine dengan kreativitas masing-masing. “Semoga pada saat itu pariwisata kita di Bali sudah benar-benar pulih, jadi nanti wisatawan asing bisa menjadikan itu sebagai tontonan wisata. Sekalian itu juga bisa jadi pemantik untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan,” lugasnya.

Apakah nanti akan dibuat lomba kreativitas TPS? “Kalau kami kan anggarannya jelas untuk buat TPS, tapi kalau misal dari pihak desa mau buat TPS unik bernuansa Valentine ya silakan. Mungkin nanti lombanya masing-masing desa,” pungkasnya. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses