Harga Daging Babi Meroket Jadi Rp100 Ribu per Kilo

  • Whatsapp
BIBIT Babi jenis landrace yang diternak oleh sejumlah masyarakat di Buleleng. Kini harga daging babi di Buleleng mencapai Rp100 ribu per kg. Foto: ist
BIBIT Babi jenis landrace yang diternak oleh sejumlah masyarakat di Buleleng. Kini harga daging babi di Buleleng mencapai Rp100 ribu per kg. Foto: ist

BULELENG – Merebaknya virus Suspect African Swine Fever (ASF) yang menyerang babi yang terjadi beberapa waktu lalu, membuat populasi babi berkurang. Akibatnya kini harga daging babi melambung tinggi dipasaran.

Saat ini harga daging babi di pasar untuk kualitas super menjadi Rp100 ribu dari sebelumnya Rp80 ribu per kilogram (Kg). Sedangkan, untuk harga daging babi kualitas nomor dua naik menjadi Rp95 ribu dari awalnya sekitar Rp75 ribu per kg.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian Koperasi, dan UKM (Disdagprinkop UKM) Buleleng, Dewa Made Sudiarta, mengatakan, kenaikan harga daging babi sejak akhir November 2020. Kenaikan ini, karena adanya hari-hari raya besar agama Hindu. Hanya saja, kata Dewa Sudiarta, kenaikan harga daging babi ini tidak signifikan.

“Secara umum harga masih bisa dijangkau masyarakat. Dengan kondisi seperti ini, pembelian daging juga tidak sering dilakukan paling hanya pada hari tertentu saja jadi tidak berpengaruh signifikan ke masyarakat,” kata Dewa Sudiarta, Jumat (22/1/2021).

Sejauh ini stok daging babi sangat berkurang. Pasalnya, dengan adanya penyakit babi membuat para peternak lokal minim pasokan babi. Sehingga, pemasok dari luar Buleleng yang mengirim pasokan babi ke Buleleng. “Kami sudah koordinasi dengan dinas pertanian untuk minimnya pasokan lokal,” ujar Dewa Sudiarta.

Baca juga :  Wagub Ingin Bali Jadi Pelopor Transaksi Non-tunai di Sektor Pariwisata

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, Made Sumiarta yang dihubungi terpisah menegaskan, pasokan daging babi di awal 2021 berkurang, karena peternak di Buleleng masih trauma sejak adanya virus babi yang hingga kini masih belum bisa dikendalikan. “Banyak warga takut memelihara babi, sehingga harga daging babi menjadi naik,” jelas Sumiarta.

Meski demikian, Distan Buleleng telah meminta para peternak di Buleleng untuk lebih memilih beternak babi jenis bali, meskipun daging yang dihasilkan lebih sedikit dari babi jenis landrace. Sebab, babi jenis landrace lebih rentan terpapar penyakit tersebut.

Terkait harga bibit babi saat ini, menurut Sumiarta, berkisar Rp700 ribu hingga jutaan untuk jenis bibit babi bali. “Kami coba arahkan ke babi bali, hanya saja ini baru dimulai. Ya, karena dari segi jumlah daging dihasilkan sedikit, jadi jelas tidak menghasilkan bagi peternak. Tapi kami tetap upayakan, agar para peternak mau beralih ke babi bali,’’ pungkas Sumiarta. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.