DENPASAR – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali dipastikan dilaksanakan bulan November 2022, dengan mengggunakan biaya yang akan dianggarkan dalam APBD Perubahan.
Dalam rapat KONI Bali bersama Ketua Umum KONI Kabupaten/Kota seluruh Bali Rabu (23/2/2022), Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi mengatakan, ia telah bertemu dengan Gubernur Bali. Gubernur Wayan Koster berharap Porprov Bali 2022 tetap dilaksanakan, hanya jadwalnya diundur dari rencana September menjadi November 2022.
Suwandi mengatakan, seluruh pelaksanaan biaya pertandingan di Porprov di Kabupaten/Kota seperti wasit/juri dan petugas lapangan akan ditanggung Pemerintah Provinsi Bali. Dalam induk APBD Bali tahun 2022, sudah dianggarkan untuk Porprov, tetapi masih kurang, di mana kekurangan tersebut akan dianggarkan dalam APBD Perubahan.
Direncanakan sejumlah 42 cabang olahraga akan dipertandingkan dalam Porprov tersebut. Namun nomor-nomor pertandingan di masing-masing cabor masih akan dibahas kemudian bersama Pengurus Provinsi cabang olahraga yang terkait. Dalam rapat tersebut juga dipastikan, bahwa atlet yang berhak turun di Porprov Bali nanti, tiga bulan sebelum hajatan itu berlangsung harus sudah tidak masalah.
Ketua Umum KONI Badung Made Nariana mengusulkan, dalam hari H pertandingan, tidak ada kontingen memasalahkan sah tidak sahnya seorang atlet peserta, sebab sudah dipastikan sudah disahkan tim keabsahan tiga bulan sebelumnya.
Jika dalam Porprov ada protes, tidak lagi menyangkut sah tidak sahnya seorang atlet, namun hanya menyangkut teknis pertandingan, kejujuran wasit atau juri dan protes terhadap permainan yang tidak sportif selama proses pertandingan tersebut.
Untuk susesnya pelaksanaan Porprov Bali tahun 2022, yang mana atletnya akan diproyeksi menjadi atlet PON Sumatra Utara/Aceh tahun 2024, Gubernur Bali diharapkan memberi arahan kepada Bupati/Walikota se-Bali supaya membantu KONI setempat dalam mempersiapkan atlet.
Dalam rapat KONI se-Bali itu, banyak Ketua Umum KONI Kabupaten/Kota mengeluh, karena biaya yang dihibahkan pemerintah setempat sangat kecil. Contoh KONI Tabanan hanya diberikan dana Rp 2 miliar (termasuk untuk dana rutin), sehingga tidak cukup untuk biaya mengirim atlet ke Poprov Bali. Begitu juga KONI Bangli, Karangasem, Klungkung, Jembrana, dan Gianyar.
Semua mengeluh, dana yang diperolehnya sangat kecil, karena kondisi covid-19 yang melanda Bali sejak dua tahun lebih. Hanya KONI Denpasar, Badung dan Buleleng yang kelihatan sangat lega karena dana yang diperoleh dari pemerintahnya sesuai dengan harapan mereka dalam kondisi covid seperti sekarang ini.
Sekalipun demikian, mereka juga mengatakan banyak melakukan efisiensi, seperti pengurangan bonus dan dana pembinaan terhadap cabor. Insan olahraga juga diminta memaklumi, karena keuangan daerah menurun akibat dampak wabah dunia tersebut. 021























