DENPASAR – Bali pernah mencecap sebagai pengekspor komoditas vanili terbesar di Indonesia pada tahun 1980-an, bahkan asosiasi eksportir vanili Indonesia berkedudukan di Bali.
Kini, prestasi itu menghilang karena menurunnya kualitas vanili, antara lain karena petik muda. Untuk kepentingan itu, Partai Golkar Bali mendesak Gubernur Bali, I Wayan Koster, segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) untuk melindungi petani vanili.
Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, Senin (28/2/2022) mengatakan, vanili sebagai komoditas andalan terbaik Bali pada era 1980-an lenyap seiring berjalannya waktu. Kualitas vanili menurun, antara lain akibat adanya petik muda.
”Para pedagang tergiur dapat keuntungan jangka pendek melalui pemenuhan kebutuhan pasar kualitas cutting, yang bahan bakunya dari petik muda vanili. Petani tidak mampu bertahan dengan kualitas vanili yang sudah matang, karena harus berlomba dengan para pencuri untuk dijual kepada para pedagang pengumpul,” tuturnya.
Karena persoalan tersebut, ucapnya, komoditas vanili mulai meredup pada awal tahun 1990-an. Kualitas terbaik yang diandalkan sebelumnya di pasar internasional, lambat laun tergerus. Meski begitu, sampai saat ini masih cukup banyak warga yang tetap mempertahankan budidaya vanili.
“Semangat petani untuk mulai membudidayakan komoditas vanili itu kami apresiasi. Potensi vanili untuk menjadi komoditas andalan ekspor dari Bali juga cukup besar,” kata Wakil Ketua DPRD Bali tersebut.
Sejalan dengan upaya Golkar untuk mendorong keseimbangan baru struktur ekonomi Bali pada masa mendatang, Badan Pembinaan dan Pemberdayaan Petani Golkar Bali sejak tahun 2020 gencar membantu dan memotivasi para petani. Para petani milenial juga tidak ketinggalan diajak membudidayakan vanili.
Golkar membagikan sedikitnya 30 ribu stek bibit vanili untuk dibudidayakan dengan cara-cara lebih modern. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Tahun 2022 ini diperkirakan mulai ada panen, dan potensi Bali kembali sebagai eksportir vanili terbesar di Indonesia akan terwujud,” papar Sugawa dengan nada optimis
Bagi Sugawa, Bali mampu menjadi pengekspor vanili terbesar di Indonesia jika pemerintah daerah juga konsisten ikut membina, melindungi dan memberdayakan para petani vanili. Ikut campur tangan pemerintah diyakini dapat membuat kualitas vanili bali tetap terjaga.
Bila pergub dimaksud tersedia dan sanksi hukum dikenakan dengan tegas bagi mereka yang melanggar, dia yakin kejayaan ekspor vanili Bali bisa dikembalikan.
“Dibutuhkan regulasi dari Pemprov Bali dalam bentuk Peraturan Gubernur, agar budidaya vanili terhindar dari petik muda dan para petani terlindungi dari para pencuri. Para pengumpul, dan eksportir dilarang membeli vanili petik muda,” seru politisi asal Buleleng itu.
Bukankah Gubernur saat penyampaian jawaban Gubernur pada rapat paripurna DPRD Bali, Senin (21/2/2022) sudah menjanjikan akan membuat regulasi untuk vanili? “Justru itu kami harus mendesak agar segera diwujudkan regulasinya,” pungkas Sugawa.
Sebelumnya, saat menjawab pertanyaan Fraksi Golkar pada rapat paripurna, Gubernur Wayan Koster berkata pada prinsipnya sependapat untuk mengulang keberhasilan ekspor vanili.
“Untuk itu, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, akan mengeluarkan imbauan untuk mencegah terjadinya petik muda dalam rangka menjaga kualitas dan mengembalikan kejayaan vanili Bali,” cetusnya dalam jawaban yang dibacakan Wakil Gubernur Tjokorda Oka Arta Ardhana Sukawati. hen























