Gali “Septic Tank”, Warga Tabanan Temukan Gua di Bawah Tanah, Diduga sebagai Tempat Pertapaan

TABANAN – Penemuan sebuah lubang besar yang diduga adalah gua di lahan milik I Ketut Nada (44), di Banjar Dalem, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, kini jadi pusat perhatian warga. Posisi gua tersebut berada di bawah tanah, dengan beberapa temuan lainnya di dalam gua yang dulunya diduga sebagai tempat pertapaan.

Pemilik lahan yang akrab disapa Jero Kubon itu mengatakan, gua tersebut ditemukan pertama kali pada pertengahan Maret 2022. “Tanggal pastinya saya lupa, tapi sekitar pertengahan Maret, sebulan yang lalu,” ujarnya, Selasa (12/4/2022).

Bacaan Lainnya

Ketika itu, ada kegiatan penggalian tanah di lahan miliknya untuk membuat septic tank, dengan menggunakan alat berat eskavator. “Septic tank itu dimaksudkan untuk buruh-buruh pabrik genteng. Pas digali dengan menggunakan alat berat, tiba-tiba tanah di tempat itu amblas, dan seketika terlihat lubang besar menganga menyerupai gua. Letaknya di bawah permukaan tanah, dengan membentuk lorong panjang melengkung ke dalam, sekitar tujuh meter,” ujar Nada.

Singkat cerita, temuan itu kemudian dikoordinasikan ke Balai Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali. Hal itu juga dibenarkan Kadis Kebudayaan Tabanan I Wayan Sugatra. “Gua itu objek diduga cagar budaya (ODCB),” ujarnya, Selasa (12/4/2022).

Baca juga :  Bupati Tamba Presentasikan Potensi Kelautan Jembrana di Jakarta, Tindaklanjuti Pertemuan dengan Menko Marvest

Lorong di bawah tanah yang disebut-sebut sebagai gua itu, dengan ketinggian sekitar 1,5 meter, dan lebar sekitar 5,2 meter. “Di dalam gua itu juga ditemukan empat relung atau ceruk. Yang pertama di sisi utara dengan ketinggian sekitar 1,2 meter, lebar 1,4 meter. Di sebelahnya berukuran 1,3 meter, lebar 1,2 meter,” kata Nada.

Begitu juga dengan ceruk berikutnya dengan tinggi sekitar 1,1 meter, lebar 1,1 meter. Ceruk keempat di sebelahnya berukuran tinggi 1,2 meter, lebar 1,9 meter.

“Untu sementara dari objek penemuan tersebut, masih akan diobservasi lagi. Saya selaku pemilik belum diperkenankan melakukan apa apa terhadap temuan tersebut, karena masih ada penelitian lebih lanjut,” ujar Nada.

Ada yang menganggap bahwa gua yang ditemukan itu adalah tempat persembunyian pada zaman Jepang menjajah Indonesia, termasuk di Desa Pejaten. Meskipun diakui memang ada beberapa tempat seperti itu di desa setempat, namun Nada kurang sependapat.

“Memang ada beberapa tempat menyerupai gua sebagai persembunyian pada zaman Jepang, namun gua yang ditemukan di pekarangan saya ini, menurut saya, cenderung sebagai tempat pertapaan atau semedi. Hal itu dikuatkan dengan ditemukannya relung atau ceruk. Apalagi di sekitar sini juga ditemukan beberapa tempat spiritual dan situs-situs seperti pura dan tempat-tempat semacam itulah,” beber Nada. gap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.