MATARAM – Anggota DPR RI dari Pulau Lombok, Bambang Kristiono, mengingatkan para pemangku kepentingan di NTB mulai mengintegrasikan Food Estate sektor pertanian dengan sektor peternakan. Integrasi akan memberi nilai tambah besar bagi peningkatan kesejahteraan petani dan peternak.
“Food Estate yang dikembangkan harus mampu mengintegrasikan pertanian dengan sektor pendukung seperti peternakan dan perikanan,” kata HBK, sapaan akrabnya, Rabu (8/2/2023).
Wakil Ketua Komisi I DPR RI ini menyebut, NTB memiliki modal sangat besar untuk mengembangkan Food Estate sektor peternakan. NTB saat ini tercatat sebagai salah satu provinsi yang merupakan gudang ternak di Indonesia. Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB mencatat, populasi sapi di NTB mencapai 1.320.551 ekor.
Di Pulau Lombok, populasi sapi terbanyak ada di Lombok Timur dengan 183.656 ekor. Untuk di Pulau Sumbawa, populasi terbanyak ada di Kabupaten Sumbawa dengan 276.031 ekor. Selain sapi, populasi kerbau di NTB juga mencapai 41.715 ekor, domba 22.161 ekor, dan kambing tercatat 711.450 ekor dengan populasi terbanyak di Kabupaten Lombok Timur yaitu 114.324 ekor.
Untuk ternak unggas, potensi yang dimiliki NTB juga tak kalah melimpah. Populasi ayam buras mencapai 9.210.252 ekor. Ayam pedaging 13.499.453 ekor. Sementara itik mencapai 778.858 ekor.
Populasi yang melimpah ini, kata HBK, menjadikan NTB mampu memenuhi kebutuhan daging untuk kebutuhan dalam daerah. Juga berkontribsi terhadap pemenuhan kebutuhan daging secara nasional. NTB juga menjadi salah satu pemasok pedet, yakni bibit sapi lokal yang diakui memiliki kualitas terbaik.
Namun begitu, NTB tak boleh berpuas diri. Para petani dan peternak berhak mendapat hasil lebih baik dari saat ini. Karena itu, untuk memberi nilai tambah besar bagi kesejahteraan petani dan peternak, Food Estate sektor peternakan menjadi cara terbaik.
“NTB juga memiliki modal lain yang tak kalah penting mewujudkan Food Estate sektor peternakan. Seluruh masyarakat NTB sesungguhnya memiliki kultur beternak yang sangat kuat,” sambung politisi Partai Gerindra itu.
Dia mencontohkan para petani di NTB, selain menggarap lahan pertanian, mereka juga memiliki dan memelihara ternak di rumah. Memelihara ternak adalah cara para petani di NTB menabung. Saat ada kebutuhan mendesak, mereka akan menjual ternaknya.
Dengan potensi ternak sapi saat ini, urainya, NTB mampu menjadi pemasok kebutuhan daging nasional hingga 4,6 persen per tahun. Namun, Food Estate sektor peternakan, studi menyebut NTB akan mampu menjadi pemasok kebutuhan daging nasional hingga 20 persen per tahun. Ini akan mampu menghasilkan kenaikan pendapatan para peternak sapi hingga empat kali lipat dari saat ini.
Dia menguraikan, NTB juga memiliki potensi pakan cukup besar. Baik untuk hijauan makanan ternak, sumber pakan lain, maupun untuk pakan unggas. NTB satu provinsi penghasil jagung yang besar di Indonesia, bahkan sampai diekspor ke Jepang dan Filipina.
HBK mengapresiasi Pemprov NTB yang mulai menginisiasi Food Estate berbasis peternakan di Kecamatan Labangka, Sumbawa. Pemprov menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektar, dan kawasan itu ditarget akan menjadi kawasan mandiri pangan terintegrasi. “Tentu tak cukup hanya di Labangka. Pemerintah daerah juga harus menginisiasi hal serupa secara merata di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa,” sarannya. rul























