POSMERDEKA.COM, TABANAN – Dulu, jembatan di Desa Tua, Kecamatan Marga, Tabanan ini, disebut dengan Jembatan Yeh Kajang. Sempat hancur dan lumpuh total sejak 16 Oktober 2022, akibat terjangan air bah di aliran Tukad Yeh Kajang. Kemudian mulai dibangun lagi pada Mei 2023, dengan waktu pengerjaan selama 180 hari kalender, yakni dengan panjang 30 meter dan lebar 7,6 meter. Pembangunan jembatan tersebut menghabiskan dana Rp11,1 miliar dari APBD Kabupaten Tabanan 2023.
Usai pembangunan rampung, dalam momentum ini Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, meresmikan dan menamai jembatan tersebut dengan nama Jembatan Kajang Merah, Senin (18/12/2023). “Jembatan ini saya resmikan dengan nama Jembatan Kajang Merah, karena dari zaman dulu namanya Jembatan Kajang. Dan kenapa merah, karena kebetulan jembatan ini dicat dengan warna merah. Merah artinya berani, membela yang benar, dan takut karena salah,” ungkapnya, sebelum pemotongan pita sebagai tanda jalan jembatan tersebut resmi dibuka.
Jalan jembatan tersebut merupakan penghubung wilayah Apuan-Marga. Masyarakat dan pengguna jalan pun terlihat sudah berlalu lalang melewati jembatan yang sudah dinanti-nanti sejak lama tersebut. “Kami sebagai masyarakat menyampaikan terima kasih kepada Bupati Tabanan, karena jembatan penghubung Marga-Apuan bisa difungsikan kembali,” ujar salah satu warga, I Made Sudirta.
Dengan rampungnya pembangunan jembatan tersebut, arus lalu lintas antara Kecamatan Marga dan Kecamatan Baturiti kembali lancar. Diharapkan bahwa hal ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, tidak hanya dalam hal kelancaran transportasi, tetapi juga dalam meningkatkan aktivitas ekonomi dan mengurangi waktu tempuh ketika melewati jalur Marga-Apuan.
Bupati Sanjaya juga minta kepada seluruh warga untuk turut berkontribusi memelihara ataupun merawat jembatan ini, agar bisa bertahan lama. Warga juga diharapkan agar tidak membuang sampah atau potongan kayu dan bambu ke aliran sungai, yang bisa menyebabkan banjir. “Apalagi saat ini cuaca tidak bisa kita prediksi akibat perubahan iklim yang melanda bumi,” imbuh Sanjaya. gap
























