DPT Pemilu 2024 Didominasi Perempuan, 80,6 Persen Perempuan Tidak Suka Kampanye Jual Politik Identitas

SALAH seorang warga di Kota Mataram dengan membawa anak yang masih berseragam sekolah terlihat menggunakan hak pilih di salah satu TPS saat Pilkada 2020 lalu. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, MATARAM – Jumlah pemilih perempuan di Pemilu 2024 angkanya lebih besar bila dibandingkan pemilih laki-lakinya. Dalam DPT Pemilu yang dirilis KPU NTB, jumlah pemilih perempuan tercatat sebanyak 2.001.493 orang dari total DPT Pemilu di NTB yang mencapai 3.918.291 orang.

Sisanya 1.916.798 merupakan pemilih laki-laki. Melihat data itu, Warna Institute mengukur preferensi dan rasionalisasi pilihan politik kaum perempuan pada Pemilu 2024.

Read More

Direktur Executive Warna Institute, Frika Faudilah, mengatakan, hasil penelitian menyatakan 80,6 persen kaum perempuan tidak suka gaya kampanye relawan-relawan bakal capres yang isinya politik identitas, saling mendiskreditkan bakal capres lain. ‘’Sebanyak 86,7 persen tidak menyukai bakal capres yang ambisius dan hanya pencitraan,’’ terangnya dalam pesan tertulis, Senin (24/7/2023).

Frika mengatakan, sebanyak 87,8 persen kaum perempuan menyukai dan menerima tokoh yang punya rekam jejak kinerja yang berdampak pada ekonomi keluarga kaum perempuan.

Selain itu, sosok dan kemampuan presiden yang menggantikan Jokowi yang diharapkan kaum perempuan, dalam penelitian ini, sebanyak 70,6 persen menginginkan presiden yang mampu mengelola perekonomian nasional.
‘’Hal ini akan berdampak bagi pendapatan dan kesejahteraan keluarga,’’ paparnya.

Lebih lanjut diuraikan, sebanyak 12,6 persen perempuan menginginkan presiden yang tegas dan berani; sebanyak 7,7 persen kaum perempuan menginginkan presiden yang merakyat, dan sebanyak 9,1 persen tidak menjawab.

Kemudian sebanyak 59,8 persen kaum perempuan menginginkan presiden berlatar belakang sipil. Yang menginginkan presiden berlatar belakang militer/polisi hanya 21,8 persen, dan 19,4 persen tidak mempermasalahkan latar belakang presiden.

“67,9 persen kaum perempuan tidak mempermasalahkan presiden tidak berkeluarga atau punya istri atau suami, dan 32,1 persen kaum perempuan menyatakan presiden harus punya istri atau suami. Hanya sebanyak 1 persen tidak menjawab,” lugasnya.

Dia membeberkan, pengukuran dilakukan dengan jajak pendapat yang diikuti 2.200 kaum perempuan pada 10-22 Juni 2023. 67,7 persen responden pernah memberikan suaranya pada Pemilu 2019 dan 32,3 persen kaum perempuan pemilih pemula.

Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Hasil penelitian survei memiliki tingkat dipercaya sebesar 95 persen dan margin of error kurang lebih 2,09 persen. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.