DPRD NTB Serukan Cegah Pernikahan Dini, Terbanyak di Loteng Selama Pandemi

ANGGOTA DPRD NTB, Ruslan Turmudzi (tengah), mengajak masyarakat menekan kasus pernikahan dini di Kabupaten Loteng yang meningkat selama pandemi Covid-19. Foto: rul
ANGGOTA DPRD NTB, Ruslan Turmudzi (tengah), mengajak masyarakat menekan kasus pernikahan dini di Kabupaten Loteng yang meningkat selama pandemi Covid-19. Foto: rul

LOTENG – Anggota DPRD NTB dapil Lombok Tengah (Loteng) Selatan, Ruslan Turmudzi, menilai angka pernikahan dini di Loteng perlu mendapat perhatian serius pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Pernikahan dini terus meningkat selama pandemi Covid-19.

“Dari data Pengadilan Agama Praya, tercatat ratusan orang mengajukan dispensasi perkawinan. Umumnya mereka adalah pasangan suami-istri yang berada di bawah umur,” sebutnya, Sabtu (9/4/2022).

Bacaan Lainnya

Menurut politisi PDIP itu, selama periode Januari-November 2021 ada 297 anak di bawah umur mengajukan dispensasi pernikahan. Jumlah tersebut tergolong dalam kategori gawat dan tidak bisa dianggap persoalan biasa. “Ini sudah gawat, semua pihak harus peka, jangan menganggap pernikahan dini hal biasa,” lugas Ruslan saat bersilaturahmi dengan warga Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Loteng.

Didampingi Ketua DPC PDIP Loteng, Suhaimi, dia berkata kehadirannya untuk menyampaikan sosialisasi Perda Nomor 5 tahun 2021 Tentang Pencegahan Perkawinan Anak. Perda inisiatif DPRD itu untuk mencegah perkawinan anak yang kini marak di semua wilayah di NTB.

Ruslan menguraikan, setidaknya terdapat empat faktor pemicu angka pernikahan dini: pola pengasuhan yang kurang kuat dalam keluarga, budaya menikah dini, kurang tepat dalam mengartikan agama, serta kondisi anak itu sendiri. Dari ratusan kasus yang mengajukan dispensasi perkawinan tersebut, sambungnya, tidak semua disetujui atau ditindaklanjuti Pengadilan Agama Praya. Apalagi umur pengantin wanita maupun laki-laki terlalu muda, di bawah 16 tahun. Setelah dikaji dan mengikuti proses keluarga, kedua belah pihak diminta menunda pernikahan mereka.

Baca juga :  Arema FC Kokoh di Puncak, Persib Jaga Asa Juara Usai Lumat Persipura

“Catatan saya, angka yang disetujui 260 orang dan sisanya itu ditolak karena umurnya di bawah 16 tahun. Namun, angka ini sangat memprihatinkan, sebab itu artinya masuk kategori tinggi,” kata Ruslan lantang.

Politisi senior di PDIP itu menjelaskan, batas umur minimal boleh menikah sesuai Undang-Undang Perkawinan awalnya memang 16 tahun. Kemudian direvisi dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Jika melihat kasus yang mengajukan dispensasi nikah, angka pernikahan anak di bawah umur selama pandemi ini cukup tinggi di Lombok Tengah.

“Faktor budaya atau adat istiadat terkadang bisa menyebabkan terjadinya pernikahan di bawah umur, ketika anak pulang malam atau tidak pulang setelah keluar dengan teman prianya,” sesalnya.

Ketika ada kasus seperti itu, dia menyarankan agar dilakukan upaya mediasi dengan kedua belah pihak supaya mereka dipisahkan. Sebab, lanjut dia, dampak dari terjadinya pernikahan anak di bawah umur bisa menyebabkan peningkatan kasus perceraian dan stunting, serta terkait kesehatan lainnya. 

Soal kenapa menggagas terbentuknya Perda Nomor 5 tahun 2021 tentang Pencegahan Perkawinan Anak, Ruslan menyebut  sebagai upaya mencegah terjadinya pernikahan dini. Nantinya di dalam Perda ini ada kewajiban pemerintah, baik Pemprov, pemda kabupaten/kota hingga desa, harus bersama-sama menekan angka pernikahan di bawah umur.

Dalam kesempatan itu dia mengimbau masyarakat tetap melakukan pengawasan terhadap anaknya. Ketika mereka keluar rumah harus diperhatikan, atau jangan diberikan kebebasan yang berlebihan, supaya tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan.

Baca juga :  Perbekel Wajib Paham Penyelenggaraan Pemerintahan Desa

“Selama pandemi Covid-19 ini, waktu anak masuk sekolah terkadang tidak tentu. Jadi, orangtua juga harus lebih waspada dalam mengawasi anaknya,” pesan Ruslan. rul

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.